Polisi: Tiga Orang Telah Diamankan

192
TETAP TENANG: Screen capture video pembakaran bendera tauhid yang dianggap sebagai bendera HTI yang sudah dilarang.

GARUT – Polisi mengamankan tiga orang terkait kasus pembakaran bendera bertuliskan tauhid di Garut. Polisi menyelidiki ada-tidaknya dugaan tindak pidana terkait peristiwa.

”Total ada tiga orang yang kami amankan, semua saksi,” kata Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna usai pertemuan jajaran Muspida Garut di Polsek Limbangan, Senin (22/10).

Polisi hingg saat ini masih melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut meskipun belum ada laporan yang masuk. Itu dilakukan agar tidak menimbulkan gesekan di kelompok masyarakat.

”Kalau tidak ditanggulangi, perpecahan akan timbul. Makanya kami lakukan dulu penahanan, semuanya kami jadikan saksi,” sambungnya.

Dandim 0611/Garut Letkol Asyraf Aziz meminta semua pihak menahan diri terkait peristiwa. Letkol Asyraf juga meminta masyarakat menyerahkan penanganan ke proses hukum.

”Agar kondisi kondusif, kita imbau ormas dan organisasi lainnya agar menahan jemaahnya, dan penyelesaian hukum agar percayakan kepada kami,” tandasnya.

Aksi pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid ”Laailahaillallah Muhammadarrasulullah” itu sendiri terjadi pada peringatan Hari Santri Nasional di Kecamatan Limbangan, Minggu (21/10) lalu, membuat geger, baik di dunia nyata maupun maya.

Pembakaran bendera yang menurut sebagian lainnya dianggap sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang secara resmi dibubarkan oleh pemerintah tersebut semakin menjadi sorotan setelah videonya tersebar di media sosial.

Dalam beberapa siaran pers, Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas membenarkan kejadian tersebut terjadi di Garut dan dilakukan anggotanya dengan maksud membakar bendera organisasi terlarang, hal itu dipertegas terekamnya anggota yang memakai seragam Banser Kabupaten Garut ikut dalam aksi tersebut.

Beberapa pihak yang menyayangkan aksi tersebut. Hal itu karena terkesan apa yang dilakukan justru membakar bendera berkalimat Tauhid sebagai simbol Islam. Sehingga pro dan kontra di dunia maya ataupun nyata tidak terhindarkan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut KH Sirojul Munir mengimbau, agar masyarakat tetap sabar, tenang dalam menyimpan peristiwa tersebut.

”Kita harus tetap tenang jangan terpancing emosi, jangan menimbulkan persoalan baru, ini sedang ditangani bukan hanya MUI tapi bersama TNI-Polri dan juga Pemkab Garut,” ujar Ceng Munir, kemarin (22/10).

MUI, sambung Ceng Munir, belum bisa mengambil sikap. ”Kita dengan aparat serta pemerintah daerah masih melakukan investigasi siapa yang membawa bendera dan darimana asalnya. Kan tuduhannya dari HTI, kita masih melakukan investigasi siapa yang membawa bendera itu, apakah betul dari HTI atau bukan. Kemudian yang membakar juga motifnya apa, ini masih diinvestigasi,” tukas Munir saat dihubungi melalui telepon.

Saat ini, pihaknya bersama aparat kepolisian tengah melakukan pemantauan di Kecamatan Limbangan, tempat peristiwa pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid terjadi. Ia berharap apapun alasannya, tidak sampai memecah belah keutuhan umat Islam saat ini.

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Garut KH R Amin Muhyidin menyatakan dirinya siap bertanggung jawab atas insiden pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat Tauhid.

”Jangankan melakukan hal yang benar. Melakukan hal yang dianggap salah pun saya siap bertanggung jawab sekalipun harus dipenjara. Tindakan beberapa anggota Banser di Alun-alun Limbangan itu sebagai pengamanan bendera yang mirip bendera HTI dan bertuliskan kalimat toyibah. Saya pun tak bisa berlama-lama memberikan arahan dalam kegiatan Hari Santri Nasional di Cibiuk karena ditunggu oleh Kapolres Garut di Polsek Limbangan,” ungkap Amien.

Menurutnya, pembakaran bendera hitam mirip bendera HTI di Alun-alun Limbangan pada kegiatan Hari Santri Nasinal bukan oleh oknum anggota Banser tapi oleh anggota Banser. Anggota Banser melihat pembawa bendera mirip bendera HTI di Alun-alun Limbangan dan mengambilnya untuk diamankan.

Di tempat sama Ketua GP Anshor Garut DR Abdulah Badar MSi menegaskan, anggota Banser melakukan tindakan pembakaran bendera bukan membakar kalimat toyibahnya. Tapi membakar simbulnya yang notabene HTI sudah dibubarkan oleh pemerintah. Dia pun mempertanyakan pihak pemerintah yang membiarkan pembawa bendera mirip bendera HTI berkibar dalam acara kegiatan HSN ke-3 di Alun-alun Limbangan.

”Anggota Banser membakar bendera mirip bendera HTI di Alun-alun Limbangan karena emosional melihat bendera itu berkibar dalam kegiatan Hari santri Nasional di Alun-alun Limbangan. Kesalahan sedikit dan insiden kecil saja dibesar-besarkan oleh pihak lain. Bila aparat pemerintah menekan Banser terkait pembekaran bendera itu, jajaran Banser diminta siap bergerak. HTI yang sudah dibubarkan pemerintah itu, aktivitasnya mengapa dibiarkan. Bahkan berani mengibarakan bendera dalam kegiatan Hari Santri Nasional di Alun-alun Limbangan,” tutur Badar.

Menurutnya, GP Anshor ikut bertanggung jawab dan harus dipertanggungjawabkan atas insiden pembakaran bendera HTI oleh anggota Banser di Alun-alun Limbangan sekalipun insiden itu kecil. Pernyataan semacam itu agar didengar dan disampaikan kepada para pihak yang mengutuk pembakaran bendera mirip HTI di Alun-alun Limbangan.

Sementara itu Gubernur Jawa Barat, ikut menanggapi adanya aksi pembakaran bendera tersebut. Dia pun menyesalkan adanya aksi itu.

”Saya menyesalkan adanya pembakaran bendera yang tertera kalimat tauhid di atasnya di Kab Garut tadi pagi. Mungkin tidak dimaksudkan kepada kalimat tauhidnya tapi dimaksudkan untuk membakar simbol organisasi yang sudah dilarang pemerintah,” tulis @ridwankamil di akun Instagramnya, kemarin (22/10).

Namun kata Kang Emil sapaanya dalam lanjutan keterangan unggahannya, tindakan pembakaran bendera tauhid tersebut dipastikan akan menimbulkan multitafsir. Walaupun begitu, seharusnya diserahkan kepada aparat keamanan.

”Jika kita tidak suka terhadap sesuatu, belajarlah untuk menyampaikan pesan dengan adab dan cara yang baik. Bangsa kita harus naik kelas menjadi bangsa yang lebih mulia dan lebih beradab. Keberadaban kita dilihat dari cara kita menyampaikan pesan dan dilihat dari cara kita menyelesaikan perbedaan. Sebaiknya yang bersangkutan segera menyampaikan permohonan maaf,” jelasnya.

Tokoh ulama Garut Tatang Mustafa Kamal, seperti dikutif Jabar Ekspres dari CNN Indonesia mengecam aksi pembakaran tersebut. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Melangbong Garut itu mendesak agar anggota Banser NU segera menyampaikan permintaan maaf karena anggotanya telah menghina kalimat tauhid dan umat Islam di seluruh dunia.

”Banser NU harus segera meminta maaf kepada seluruh umat Islam dunia karena yang dibakar adalah Lailahaillallah Muhammadrasulullah,” kata Tatang.

Dia mengaku sangat dan tidak rela dengan alasan yang dilontarkan Banser NU untuk membakar bendera HTI dengan dalih menyelamatkan kalimat tauhid. ”Mau itu bendera siapapun atau apapun, itu jelas yang dibakar bendera dengan kalimat tauhid,” tegasnya.

Sikap Banser NU itu, imbuh Tatang, telah menyakiti hati seluruh umat Islam di Indonesia dan dunia. Aksi pembakaran ia yakini akan menyulut kemarahan yang sangat besar dari kalangan umat Islam yang masih berakidah dan memegang teguh kalimat tauhid.

”Jangan coba-coba sakiti hati umat Islam wahai oknum Banser,” geramnya.

Atas aksi tersebut, Tatang meminta aparat kepolisian untuk segera menangkap oknum pembakar bendera HTI yang ironisnya dilakukan di peringatan hari santri. ”Itu dibakar di hari santri, aparat harus menangkap oknum banser NU pembakar kalimat tauhid itu,” tegasnya.

Tak hanya di Kabupaten Garut, di Sumedang peringatan HSN sempat diwarnai kericuhan lantaran adanya aksi sekelompok pemuda yang mengibarkan bendera putih bertuliskan kalimat tauhid dengan warna hitam.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) PCNU Sumedang, Jandri Ginting, membenarkan adanya kejadian itu, dirinya mendapat informasi dari salah seorang anggota Banser yang melihat adanya sekelompok orang yang membawa bendera Panji Rasulullah.

Sehingga mereka beranggapan bahwa para gerombolan itu adalah kelompok HTI yang jelas-jelas sudah dilarang di Indonesia.

”Kalau bukti atribut itu sama sekali tidak ada, hanya saja mereka membawa bendera itu. Kita tidak menuding bahwa mereka itu adalah anggota HTI, hanya saja bendera itu identik dengan HTI,” tutur Jandri pada sejumlah awak media, Sumedang di sela kegiatan HSN di Gedung IPP Setda Sumedang, kemarin (22/10).

Selain itu lanjut Jandri, panitia juga curiga dengan alasan mereka yang tidak mengatasnamakan pondok pesantren ditambah membawa bendera itu. Sehingga dirinya khawatir hal ini akan menjadi kejadian yang tidak diinginkan.

”Sebetulnya kita tidak melarang, karena ini momennya semua santri serentak secara nasional. Hanya saja kita menyangkan atribut yang dibawa ternyata yang seperti itu, kan dalam aturannya dilarang,” katanya.

Jandri juga membenarkan, pasca-para pemuda itu meninggalkan Kantor IPP, sempat terjadi keributan. Beruntung hal itu tidak berlangsung lama, lantaran panitia bisa meredam emosi para Banser yang mulai terpancing oleh ulah sekelompok orang tersebut.

”Tadi ada salah seorang dari mereka yang menyebut kata kata kasar yang ditujukan kepada anak-anak Banser. Alhamdulillah kita berhasil lerai supaya tidak terjadi keributan,” terangnya.

Pantauan wartawan, sekelompok pemuda tersebut sempat diamankan untuk menjaga hal hal yang tidak diinginkan. Panitia HSN mencoba berkomunikasi secara persuasif untuk mengkonfirmasi asal muasal para pemuda/i itu. Diketahui mereka merupakan pemuda majelis ta’lim yang berpartisipasi dalam peringatan HSN, namun sesuai dengan instruksi pusat bahwasanya bendera yang identik dengan HTI dilarang dikibarkan.

”Ini kalimat tauhid Pa, bukan bendera HTI. Kami di sini ingin ikut hari santri Pa,” jawab salah seorang pemuda yang diamankan. (any/ona/JPC/dal/cnn/erf/pap/as/ign)

 



TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.