Bukan Sekadar Kemarau, Krisis Air Cimahi Dipicu Eksploitasi Air Tanah Bertahun-tahun

krisis air menjadi ancaman serius jika tidak segera ditanggulangi. Kekeringan terjadi akibat dari dampak perubahan iklim
krisis air menjadi ancaman serius jika tidak segera ditanggulangi. Kekeringan terjadi akibat dari dampak perubahan iklim
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ancaman kekeringan ekstrem dan krisis air bersih mulai membayangi sejumlah wilayah di Kota Cimahi. Memasuki musim kemarau panjang yang diprediksi berlangsung hingga akhir 2026, tiga kelurahan di Kecamatan Cimahi Selatan menjadi kawasan dengan risiko dampak paling besar.

Ketiga wilayah tersebut yakni Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah. Ketiganya tercatat sebagai daerah yang kerap mengalami kesulitan pasokan air bersih ketika musim kemarau berlangsung.

Kondisi itu semakin diperburuk oleh tingginya penggunaan air tanah dalam beberapa tahun terakhir, terutama akibat aktivitas industri dan kebutuhan masyarakat. Eksploitasi air tanah yang terus meningkat membuat cadangan air bawah permukaan semakin tertekan.

Baca Juga:Musim Kemarau Mulai Melanda Tasikmalaya, Sawah Mengering hingga Warga Antre Air di MasjidLiburan Sekolah Makin Seru! de Braga by ARTOTEL Hadirkan Paket Menginap Plus Wisata Mulai Rp789 Ribu

Berdasarkan kajian Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi, penurunan muka air tanah di kawasan Bandung Raya kini berada pada level mengkhawatirkan, yakni mencapai sekitar 60 hingga 100 meter.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo Mardani mengatakan Pemerintah Kota Cimahi telah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah.

Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah menghentikan penambahan titik sumur artesis baru di wilayah Kota Cimahi.

“Soal eksploitasi air tanah, intinya itu berdasarkan kajian empat tahun ke belakang. Terparah memang oleh industri, pemerintah sudah tidak ada pengeboran sumur artesis,” ujar Amy saat dikonfirmasi, Rabu, (1/7/26).

Menurut Amy, pemerintah kini mulai menggeser ketergantungan dari sumber air tanah menuju pemanfaatan air permukaan, seperti aliran sungai. Sumber air tersebut nantinya akan diolah melalui sistem pengolahan air minum resmi Kota Cimahi sebelum disalurkan kepada masyarakat melalui jaringan perpipaan.

Sementara untuk sumur artesis yang masih tersedia, penggunaannya dibatasi dan hanya diperuntukkan dalam kondisi tertentu.

“Tidak lebih dari 10 titik, karena kebanyakan memang berada di industri. Makanya pemerintah kota hanya berusaha memanfaatkan air permukaan atau air sungai dengan mengadopsi sistem pipanisasi,” katanya.

Baca Juga:Bhakti Kencana University Terapkan Ilmu Publisitas Kampanye PR dan Event Lewat “Aksi Cilik Siaga Bencana”Mahasiswa Ilmu Komunikasi Bhakti Kencana University Gelar Clay Calming

Amy menjelaskan, meski sektor industri menjadi salah satu pengguna air tanah dalam jumlah besar, pemerintah tetap melakukan berbagai langkah pemulihan untuk menjaga keberlanjutan sumber air.

0 Komentar