JABAR EKSPRES – Financial Expo (FinExpo) yang dilaksanakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabar tak sekedar pameran. Event itu turut memutar sektor keuangan masyarakat.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman, menguraikan geliat ekonomi itu terlihat dari nilai transaksi dalam event 29 Oktober hingga 1 November 2026 di Kota Bandung itu. Yakni tembus Rp15,76 miliar.
Selain tingginya transaksi, animo masyarakat juga terlihat dari jumlah pengunjung. Dalam catatan panitia, pengunjung dalam event itu tembus 27.417 orang. “Ini jadi angin segar ya, karena animo masyarakat juga tinggi, ” katanya, Kamis (5/11).
Baca Juga:BPBD Tasikmalaya: Ada 117 Bencana Selama Oktober, Kekeringan Masih MendominasiSiap Bersaksi di Sidang Roy Suryo Cs, Jokowi Bawa Dokumen Ijazah Asli ke PN Jakarta Timur
Darwisman menjelaskan, event itu memang sengaja mempertemukan masyarakat dengan pelaku usaha jasa keuangan (PUJK). Mereka bisa hadir untuk memperoleh edukasi, berkonsultasi, serta mengakses produk dan layanan keuangan formal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.
Baginya, perluasan akses keuangan harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman masyarakat dan penguatan pelindungan konsumen. Lalu keberhasilan inklusi keuangan perlu dilihat dari manfaat penggunaan produk dan layanan keuangan bagi masyarakat. Manfaat tersebut mencakup penguatan ketahanan keuangan rumah tangga, pengembangan usaha, serta peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Lalu, OJK juga mengingatkan masyarakat agar setiap keputusan penggunaan produk dan layanan keuangan tak sembarangan. Artinya didasarkan pada pemahaman atas manfaat, biaya, dan risiko, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan.
Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan layanan keuangan digital, masyarakat juga perlu mewaspadai penipuan, penyalahgunaan data pribadi, aktivitas keuangan ilegal, dan modus rekayasa sosial. Masyarakat diimbau untuk memastikan legalitas penyedia layanan, menjaga kerahasiaan PIN, kata sandi, dan kode autentikasi, serta mencermati tawaran yang menjanjikan keuntungan tidak wajar.
Di sisi lain, aduan soal penipuan di sektor keuangan (scam) juga cukup tinggi. Itu terlihat dari data Indonesia Anti Scam Center (IASC).
Data 22 November sampai 30 September 2026 mencatat ada 702.342 laporan masuk. Dan provinsi dengan laporan scam tertinggi ada di Jawa Barat.
Setidaknya ada 5 modus utama penipuan scam. Yakni penipuan transaksi belanja, penipuan investasi, fake call, penipuan kerja, penipuan medsos. (son)
