Kisah Nebulae Cymbal dari Cangkuang, Berawal dari Krisis Moneter hingga Dilirik Pasar Luar Negeri

Kisah Nebulae Cymbal dari Cangkuang, Berawal dari Krisis Moneter hingga Dilirik Pasar Luar Negeri* Jabar Eks
Kisah Nebulae Cymbal dari Cangkuang, Berawal dari Krisis Moneter hingga Dilirik Pasar Luar Negeri
0 Komentar

Jabar Ekspres – Krisis moneter 1997 menjadi titik awal perjalanan Surya Sumirat merintis Nebulae Cymbal. Berangkat dari kebutuhan sederhana untuk menjaga usaha studio rental musik miliknya tetap berjalan, Surya justru menemukan peluang bisnis dari instrumen drum yang kerap mengalami kerusakan dan membutuhkan biaya penggantian cukup besar.

Di Kampung Tenjolaya, Desa Ciluncat, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, Surya mulai meracik dan membuat simbal sendiri. Saat itu, ia kesulitan membeli simbal karena nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah, sementara kebutuhan untuk mengganti instrumen tersebut terus berjalan.

“Awalnya untuk pemakaian pribadi, karena kami mempunyai satu studio rental. Waktu itu, saat krisis moneter, kami kesulitan membeli simbal. Biaya operasional rental banyak habis untuk mengganti simbal,” kata Surya saat ditemui di rumah produksinya, Selasa (27/10/2026).

Baca Juga:Reuni 40 Tahun Alumni ITB 86, Siap Bersinergi Atasi Persoalan Bandung hingga Berkontribusi untuk IndonesiaUpdate Kasus Penyerangan di Caringin, Sejumlah Terduga Pelaku Berhasil Diciduk 

Berbekal pengalaman di bidang teknik mesin sejak berusia 11 tahun, Surya mencoba membuat simbal sendiri. Pada 1997, ia mulai menghasilkan simbal yang dapat digunakan, meski kualitasnya belum sempurna.

Setahun kemudian, produk buatannya mulai dijual setelah teman-teman sesama pemilik rental musik mengetahui kemampuannya.

Dari mulut ke mulut, permintaan terus berkembang. Pasar yang awalnya terbatas di Bandung perlahan meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Nebulae Cymbal pun tumbuh dari kebutuhan pribadi menjadi usaha produksi instrumen musik.

Surya memilih simbal bukan tanpa alasan. Dalam perangkat drum, simbal termasuk instrumen yang rentan pecah, terutama ketika dimainkan dengan intensitas tinggi. Ketika kerusakan terjadi, pemain harus menggantinya agar tetap dapat beraktivitas.

“Pada umumnya simbal itu bisa pecah dan harganya mahal. Dari pengalaman itu, kami berpikir membuat simbal bisa menjadi usaha yang terus berjalan karena pemain membutuhkan penggantinya,” ujarnya.

Menurut Surya, karakter tersebut membuat simbal memiliki kebutuhan pasar tersendiri. Berbeda dengan perangkat drum yang bisa digunakan dalam waktu lama, simbal berpotensi mengalami kerusakan seiring pemakaian. Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan yang mendorongnya menekuni produksi simbal hingga sekarang.

Pada masa awal produksi, Nebulae menggunakan bahan brass atau kuningan. Setelah melewati berbagai proses pengembangan, Surya mulai memperluas pilihan bahan baku, terutama setelah pandemi COVID-19.

0 Komentar