Kisah Nebulae Cymbal dari Cangkuang, Berawal dari Krisis Moneter hingga Dilirik Pasar Luar Negeri

Kisah Nebulae Cymbal dari Cangkuang, Berawal dari Krisis Moneter hingga Dilirik Pasar Luar Negeri* Jabar Eks
Kisah Nebulae Cymbal dari Cangkuang, Berawal dari Krisis Moneter hingga Dilirik Pasar Luar Negeri
0 Komentar

Surya memperkirakan kapasitas produksinya mencapai sekitar 90 keping per minggu atau kurang lebih 360 keping dalam empat minggu. Namun, angka tersebut merupakan jumlah yang dikerjakan, bukan seluruhnya produk jadi yang siap dijual.

Dalam proses pembuatan, sebagian simbal tidak memenuhi hasil yang diharapkan sehingga harus kembali ke tahap awal pengerjaan.

“Dalam seminggu kami membuat sekitar 90 keping. Namun, tidak semuanya bisa selesai karena ada yang gagal dan harus kembali ke proses awal. Jadi, saya tidak bisa memastikan berapa jumlah akhirnya yang siap dijual,” kata Surya.

Baca Juga:Reuni 40 Tahun Alumni ITB 86, Siap Bersinergi Atasi Persoalan Bandung hingga Berkontribusi untuk IndonesiaUpdate Kasus Penyerangan di Caringin, Sejumlah Terduga Pelaku Berhasil Diciduk 

Di tengah perkembangan teknologi digital, Nebulae juga berupaya mendekatkan produsen dengan pengguna melalui fasilitas Sound Lab.

Fasilitas ini tidak hanya digunakan untuk memperkenalkan produk, tetapi juga menjadi ruang bagi musisi untuk mencoba simbal, mempelajari karakter suara, serta menguji prototipe.

Melalui Sound Lab, Surya ingin memangkas jarak informasi yang selama ini kerap terjadi antara pembuat instrumen dan pemain musik. Menurutnya, pengguna perlu mengetahui karakter dan cara penggunaan produk secara lebih mendalam, sementara produsen juga perlu memahami respons dari penggunanya.

“Keuntungan Sound Lab adalah kami bisa menyampaikan informasi tentang simbal Nebulae secara langsung kepada pengguna. Di sini ada product knowledge, pembuatan sampel suara, dan pemain juga bisa mencoba simbal yang tersedia,” ujarnya.

Fasilitas itu turut dimanfaatkan untuk menguji prototipe. Produk yang dibuat di tempat produksi dapat dicoba dan direkam untuk mendengarkan hasil suaranya sebelum dikembangkan lebih lanjut.

Setelah bertahun-tahun berkembang di pasar domestik, simbal Nebulae mulai menjangkau pembeli dari luar negeri.

Meski jumlahnya belum banyak, Surya melihat perkembangan media sosial dan digitalisasi membuka peluang agar produk lokal dikenal oleh musisi di berbagai negara.

Baca Juga:Sunset di Pantai 2026 Bawa Pesan Konservasi, 102 Bibit Mangrove Ditanam di Pulau PramukaOperasi Patuh Lodaya 2026 di Tasikmalaya Libatkan Tim Gabungan, Bidik Pelanggaran dan Tekan Kecelakaan

Pembelian dari luar negeri saat ini lebih banyak dilakukan secara perorangan, bukan melalui dealer atau distributor. Sebagian pembeli mengetahui Nebulae ketika berkunjung ke Indonesia, sementara lainnya menemukan produk tersebut melalui konten digital.

“Sekarang dengan era digitalisasi dan media sosial, informasi bisa sampai ke seluruh dunia. Mungkin mereka melihat konten yang kami buat, lalu mengetahui bahwa di Indonesia ada yang membuat simbal,” ucapnya.

0 Komentar