Trotoar dan BRT Bandung Dibangun, tetapi Apakah Penyandang Disabilitas Bisa Mengaksesnya Secara Mandiri?

Penyandang disabilitas berjalan dengan kursi roda menyeberangi perlintasan jalur kereta api sebidang di Jalan
Penyandang disabilitas berjalan dengan kursi roda menyeberangi perlintasan jalur kereta api sebidang di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (16/10/2026). Koalisi Pejalan Kaki Bandung bersama Komunitas Edan Sepur dan penyandang disabilitas melakukan aksi tamasya trotoar BRT yang menyoroti keberadaan halte yang berdekatan dengan perlintasan kereta api sebidang yang dinilai belum cukup aman bagi pejalan kaki dan disabilitas karena berpotensi membahayakan keselamatan. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pembangunan trotoar dan pengembangan layanan Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung menjadi bagian dari upaya membenahi transportasi publik.

Namun, di balik pembangunan infrastruktur tersebut, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab, apakah fasilitas yang dibangun benar-benar bisa diakses semua orang, termasuk penyandang disabilitas?

Bagi sebagian masyarakat, trotoar merupakan jalur untuk berjalan kaki menuju tempat kerja, sekolah, atau halte angkutan umum.

Baca Juga:Dua Rumah dan Kandang Ternak di Tasikmalaya Ludes Terbakar, 12 Ekor Domba Mati TerpanggangBupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK,  Ahmad Luthfi Sudah Ingatkan Pentingnya Clean and Good Government

Sementara itu, BRT diharapkan menjadi pilihan transportasi yang lebih nyaman dan terintegrasi. Akan tetapi, bagi penyandang disabilitas, keberadaan kedua fasilitas tersebut belum tentu menjamin kemudahan mobilitas.

Wahyudin, seorang penyandang disabilitas yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) Bandung, merasakan bahwa aksesibilitas masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.

Baginya, keterbatasan fisik bukan alasan untuk membatasi ruang gerak seseorang. Ia ingin bisa keluar rumah, mengenal dunia luar, dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus selalu bergantung kepada orang lain.

“Di rumah, kita perlu mencari jalan atau peluang untuk hidup. Kita ingin mengetahui dunia luar. Kita bukan orang sakit. Kami hanya penyandang disabilitas yang membutuhkan aksesibilitas,” ujar Wahyudin.

Keinginan tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi penyandang disabilitas, bepergian secara mandiri masih menjadi tantangan ketika fasilitas publik belum sepenuhnya mendukung kebutuhan mereka.

Wahyudin menuturkan, dirinya ingin memiliki akses untuk bepergian tanpa harus selalu didampingi. Sebab, ketergantungan terhadap orang lain bukan hanya persoalan kenyamanan, melainkan juga menyangkut kemandirian dan kesempatan untuk beraktivitas setara dengan masyarakat lainnya.

“Kami tidak ingin terus-menerus berada di rumah. Kami ingin memiliki akses agar bisa bepergian sendiri tanpa pendampingan orang lain,” katanya.

Baca Juga:Pemprov Jateng Libatkan 123 Perguruan Tinggi Bareng-Bareng Entaskan KemiskinanCekcok Berujung Maut di Tanjungjaya Tasikmalaya, Korban Dibacok Golok dan Dihantam Batu

Pembangunan trotoar semestinya tidak berhenti pada tersedianya jalur pedestrian. Trotoar perlu dirancang agar dapat digunakan oleh seluruh kelompok masyarakat, termasuk pengguna kursi roda dan penyandang disabilitas lainnya.

Jalur yang terputus, permukaan yang tidak rata, hambatan di sepanjang trotoar, hingga akses naik-turun yang tidak memadai dapat membuat perjalanan yang seharusnya sederhana menjadi sulit.

Persoalan serupa juga perlu diperhatikan dalam pengembangan BRT. Transportasi publik tidak cukup hanya menghadirkan armada dan halte.

0 Komentar