Ukuran keberhasilan yang lebih menyeluruh perlu melihat apakah masyarakat dapat menggunakan fasilitas tersebut dengan aman, nyaman, dan mandiri.
Bagi penyandang disabilitas seperti Wahyudin, trotoar yang layak bukan hanya jalur pejalan kaki. Trotoar adalah akses menuju kesempatan untuk beraktivitas. BRT bukan sekadar moda transportasi, melainkan sarana untuk membuka ruang mobilitas yang selama ini sulit dijangkau.
Karena itu, pembangunan trotoar dan pengembangan BRT di Kota Bandung perlu disertai evaluasi aksesibilitas yang nyata. Fasilitas penyeberangan, jalur pemandu, kemiringan jalur, konektivitas trotoar dengan halte, serta kemudahan naik-turun kendaraan perlu diperhatikan sebagai bagian dari satu sistem transportasi yang inklusif.
Baca Juga:Dua Rumah dan Kandang Ternak di Tasikmalaya Ludes Terbakar, 12 Ekor Domba Mati TerpanggangBupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK, Ahmad Luthfi Sudah Ingatkan Pentingnya Clean and Good Government
Pada akhirnya, kota yang ramah bukan hanya kota yang terus membangun infrastruktur, melainkan kota yang memastikan setiap warganya dapat menikmati hasil pembangunan tersebut.
Sebab, bagi Wahyudin dan penyandang disabilitas lainnya, persoalannya bukan sekadar bagaimana mencapai tujuan. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah mereka diberi kesempatan untuk berangkat sendiri, tanpa harus selalu bergantung kepada orang lain. (dam)
