JABAR EKSPRES – Homo Academicus, Paradoks Filsuf, dan Kebenaran yang Memperoleh Legitimasi dari Kekuasaan
Oleh: Delpiero Hegelian
Ada paradoks yang jarang kita bicarakan ketika seorang akademisi masuk ke dalam kekuasaan.
Di satu sisi, kita berharap pengetahuan masuk ke dalam pemerintahan agar kekuasaan tidak bekerja semata-mata berdasarkan intuisi, kepentingan, atau kalkulasi politik. Kita membutuhkan ilmu pengetahuan untuk membantu negara memahami persoalan, menyusun kebijakan, mengukur dampak, dan mengambil keputusan.
Baca Juga:Islamic Youth Festival JSIT Kota Bandung 2026: Wadah Kolaborasi dan Cetak Generasi Muda Unggul di Kota BandungAklamasi! Yuslita Bilqis Jadi Perempuan Pertama Pimpin Golkar Sumedang
Namun, di sisi lain, justru ketika pengetahuan masuk ke dalam kekuasaan, muncul persoalan yang lebih subtil:
“bagaimana jika pengetahuan tidak lagi sekadar digunakan untuk menguji kekuasaan, tetapi digunakan untuk memberikan legitimasi kepada kekuasaan?”
Di titik itulah kita perlu kembali membaca dua figur yang sebenarnya sangat jauh jaraknya: homo academicus Pierre Bourdieu dan sofis dalam kritik Plato.
Keduanya bukan untuk dipertentangkan secara sederhana. Justru jika diletakkan berdampingan, keduanya membantu kita memahami sebuah paradoks: akademisi dapat memiliki modal pengetahuan yang membuat pendapatnya tampak objektif, sementara posisi sosial dan politiknya memungkinkan pendapat tersebut bekerja sebagai legitimasi bagi kekuasaan.
Dengan kata lain, persoalannya bukan ketika akademisi berbicara. Persoalannya adalah ketika otoritas akademik membuat opini terdengar seperti kebenaran, dan kebenaran yang terdengar akademis kemudian bekerja untuk kepentingan kekuasaan.
Homo academicus tidak pernah berada di luar dunia
Kita sering membayangkan akademisi sebagai manusia yang berdiri di luar pertarungan kepentingan. Akademisi seakan-akan mengamati masyarakat dari tempat yang steril: membaca data, membangun teori, melakukan penelitian, lalu memberikan kesimpulan.
Bourdieu mengingatkan kita melalui konsep homo academicus bahwa dunia akademik sendiri merupakan sebuah arena sosial. Di dalamnya terdapat hierarki, reputasi, modal intelektual, modal sosial, institusi, kompetisi, pengakuan, dan perebutan legitimasi.
Baca Juga:Bupati Pangandaran Diduga Salah Gunakan Kekuasaan untuk Galang Dana Infak Tidak Lewat BaznasRespons Polemik Data Center BDx, Pimpinan DPRD Perintahkan AKD Tinjau Langsung Proyek
Akademisi bukan manusia tanpa posisi. Akademisi justru memiliki posisi. Akademisi memiliki gelar, jabatan, afiliasi institusional, jaringan, reputasi, karya, pengikut, dan kemampuan mendefinisikan persoalan melalui bahasa keilmuan.
Semua itu merupakan bentuk modal dan modal tersebut dapat dikonversikan. Modal akademik dapat menjadi modal sosial. Modal sosial dapat menjadi modal politik. Modal simbolik dapat menjadi legitimasi.
