Di Antara Homo Academicus dan Sofis: Bahasa Pengetahuan Bertemu Bahasa Kekuasaan

Di Antara Homo Academicus dan Sofis: Bahasa Pengetahuan Bertemu Bahasa Kekuasaan
Foto: unsplash
0 Komentar

Akhirnya, sebuah keputusan politik yang semula dapat diperdebatkan sebagai pilihan kekuasaan berubah menjadi sesuatu yang tampak sebagai keharusan ilmiah.

Di sinilah paradoksnya.

Kekuasaan tidak lagi mengatakan:

“Kami memilih kebijakan ini.”

Tetapi dapat mengatakan:

“Berdasarkan kajian ilmiah, kebijakan ini memang harus dilakukan.”

Perubahan kalimat tersebut tampak sederhana. Tetapi secara politik sangat besar.

Sebab keputusan politik telah memperoleh legitimasi epistemik.

Kekuasaan tidak hanya mengatakan bahwa ia berwenang. Kekuasaan mulai mengatakan bahwa ia benar secara ilmiah.

Inilah titik temu homo academicus dan Sofis

Di sinilah Bourdieu dan Plato dapat dibaca dalam satu tarikan napas.

Baca Juga:Islamic Youth Festival JSIT Kota Bandung 2026: Wadah Kolaborasi dan Cetak Generasi Muda Unggul di Kota BandungAklamasi! Yuslita Bilqis Jadi Perempuan Pertama Pimpin Golkar Sumedang

Bourdieu membantu kita memahami posisi sosial akademisi. Plato membantu kita memahami problem retorika dan kebenaran.

Jika keduanya digabungkan, kita mendapatkan pertanyaan yang jauh lebih menarik:

“Apa yang terjadi ketika seorang homo academicus membawa modal simbolik akademiknya ke dalam arena kekuasaan, lalu menggunakan otoritas pengetahuan untuk membuat keputusan politik tampak sebagai kebenaran ilmiah?”

Di situlah perilaku sofistik dapat muncul.

Bukan karena akademisinya tiba-tiba berhenti menjadi akademisi. Justru sebaliknya.

Akademisi menjadi sofistik karena modal akademiknya bekerja dengan sangat efektif.

Gelar membuatnya dipercaya. Institusi membuatnya legitimate. Bahasa ilmiah membuat argumennya tampak objektif. Data membuatnya tampak empiris. Reputasi membuat kritik terhadapnya menjadi lebih sulit. Dan kedekatannya dengan kekuasaan membuat pengetahuan itu mempunyai konsekuensi nyata.

Maka, paradoksnya bukan:

akademisi versus sofis.

Paradoksnya adalah:

akademisi yang dapat bertindak secara sofistik.

Filsuf bukan pujian, Sofis bukan cacian

Karena itu, mungkin kita perlu berhenti menggunakan “filsuf” sebagai mahkota dan “sofis” sebagai batu untuk melempar seseorang.

Keduanya jauh lebih berguna jika kita perlakukan sebagai kategori untuk memahami cara berpikir dan cara menggunakan pengetahuan.

Seseorang tidak menjadi bijaksana hanya karena disebut filsuf. Dan seseorang tidak otomatis menjadi buruk hanya karena disebut sofis.

Yang perlu kita periksa adalah:

“bagaimana pengetahuan digunakan.”

Apakah pengetahuan digunakan untuk membuka ruang pertanyaan? Ataukah untuk menutup perdebatan?

0 Komentar