Siang itu matahari mulai tergelincir ke arah barat. Azan Zuhur memecah bising mesin rajut, jarum-jarum yang sejak pagi berdetak mendadak diam. Tangan-tangan yang sibuk menarik benang warna – warni meninggalkan mesin. Emak-emak berkerudung dan lelaki berpeci bergeser ke dua masjid yang ada di Kampung Rajut Binong.
Hendrik Muchlison, Jabar Ekspres, Kota Bandung
Di kampung yang ada di Kota Bandung itu ibadah dan aktivitas wisata kini tidak berjalan berseberangan. Keduanya justru dirajut menjadi satu pengalaman. Kampung itu kian bersolek untuk menjadi salah satu ikon Wisata Ramah Muslim.
Karenanya, rombongan warga asing yang ikut memadati saf masjid saat salat adalah potret yang mulai biasa di Kampung Binong. “Masjidnya cukup luas, toiletnya juga bersih. Jadi nyaman,” kata Firman salah satu wisatawan yang saat itu ikut berkunjung ke Binong, Minggu (13/9).
Baca Juga:MOD Arcade Bandung Buka 24 Jam dengan Fasilitas Gaming hingga RestoTower 30 Meter Roboh Saat Dibongkar, Satu Pekerja Tewas dan Satu Luka Parah
Founder Kampung Rajut Binong Eka Rahmat Jaya menuturkan, kesiapan Kampung Rajut Binong untuk memanjakan wisatawan ramah muslim bukan hanya di atas kertas. Itu terlihat dari sejumlah infrastruktur yang tersedia di kawasan itu. Misalnya soal masjid, setidaknya ada 19 masjid di kampung yang terdiri dari 10 RW itu.
Di antaranya dua masjid besar yang cukup luas yang bisa menampung ratusan jamaah. Selain luas, masjid itu juga ditunjang dengan toilet bersih dan terpisah antara khusus pria dan wanita. Wisatawan juga tak sulit menemukan masjid tersebut. Karena selain ada pemandu, di kawasan itu sudah terpajang peta lokasi dan penunjuk arah. “Ada peta, lalu petunjuk arah di beberapa titik. Dua masjid besar itu juga dekat dengan pusat Galeri Kampung Rajut,” cetusnya, Senin (7/9)
Selepas salat, rombongan wisatawan itu akan kembali ke rumah-rumah produksi rajut di kawasan seluas 72 hektar itu. Mereka kembali menyimak tangan-tangan terampil para perajut yang menyulap gulungan benang warna-warni jadi berbagai bentuk fashion.
Benang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Seorang wisatawan pun mencoba mengikuti gerakan perajin, namun beberapa kali rajutanya meleset. Bukanya sigap memperbaiki, wisatawan itu malah tertawa lepas.
