Merajut Wisata Ramah Muslim dari Kampung Binong

BERSOLEK : Eka Rahmat Jaya menunjukkan beberapa penunjuk arah di Kampung Rajut Binong. (Hendrik/JE)
BERSOLEK : Eka Rahmat Jaya menunjukkan beberapa penunjuk arah di Kampung Rajut Binong. (Hendrik/JE)
0 Komentar

Di tempat ini, mesin, benang dan jarum lajut bukan sekedar alat produksi. Ia berubah jadi bagian dari atraksi wisata. Pengalaman itulah yang menjadi daya tarik andalan Kampung Rajut. Namun memang wisatawan juga perlu sabar untuk bergantian. Karena rumah produksi rajut bukanlah pabrik, tapi berupa rumah tinggal yang berpadu dengan arena produksi. Lalu ditambah tumpukan gulungan benang dan kain yang makin memakan ruang.

Biasanya jika wisatawan banyak, pengelola akan membagi dalam beberapa kelompok. Lalu mereka akan diantar ke beberapa titik di antara 310 perajin yang kini masih bertahan.

UMKM Bersertifikat Halal

Ketika perut wisatawan mulai keroncongan, pemandu akan menggiring para pengunjung mendekati aroma kikil yang berpadu dengan kaldu tulang sapi. Yaitu aroma khas Mie Kocok Bandung.

Baca Juga:MOD Arcade Bandung Buka 24 Jam dengan Fasilitas Gaming hingga RestoTower 30 Meter Roboh Saat Dibongkar, Satu Pekerja Tewas dan Satu Luka Parah

Di kawasan tersebut ada warung Mie Kocok Ibu Lilis. Yakni satu dari sejumlah UMKM yang ada di Kampung Binong. Wisatawan muslim juga tak perlu khawatir untuk mencicipi menu tersebut, karena warung tersebut telah mengantongi sertifikat halal.

Pengunjung juga bisa mencicipi menu dari UMKM lain jika lidahnya kurang cocok dengan Mie Kocok. “Sekarang sudah ada 13 UMKM yang bersertifikat halal. Makanan maupun minuman,” sambung Eka.

Pemuda 36 tahun itu melanjutkan, wisatawan juga bisa membeli buah tangan sebelum pulang. Itu tersedia di pusat galeri ataupun langsung beli saat mengikuti trip di rumah-rumah produksi.

Lalu, wisatawan yang ingin menginap juga tidak perlu bingung. Karena di kawasan itu tersedia sejumlah homestay dengan harga terjangkau. Para pemilik homestay juga telah bersepakat untuk menerapkan beberapa aturan ketat demi kenyamanan wisatawan. Misalnya larangan menginap sekamar bagi yang bukan suami istri. “Di homestay juga disediakan tempat ibadah, alat salat dan petunjuk arah kiblat,” cetus Eka.

Wisatawan Pompa Denyut Nadi Ekonomi

Kunjungan wisatawan ke Kampung Rajut kini jadi angin segar bagi para perajin maupun warga sekitar. Mereka jadi pemompa denyut nadi ekonomi baru. Produk-produk perajin makin dikenal luas termasuk diborong jadi buah tangan. Selain itu pelaku UMKM, pemilik homestay juga kecipratan karena banyaknya pengunjung.

0 Komentar