Dadang menilai, di era digitalisasi ini harua memiliki kompetensi, karakter, kemampuan beradaptasi, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, kemampuan memecahkan masalah, literasi digital, dan yang tidak kalah penting adalah integritas.
“Jadilah manusia yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan nilai kemanusiaan,” bebernya.
“Gunakan teknologi untuk menghasilkan manfaat. Gunakan kecerdasan untuk menyelesaikan masalah. Gunakan ilmu untuk membantu masyarakat. Dan gunakan kesuksesan untuk memberikan kebermanfaatan kepada sesama,” lanjut Dadang.
Baca Juga:Semangat Partisipasi Harus Menjadi Pondasi dan Mimpi Meraih PrestasiPraktik Ketenagakerjaan Produktif Perlu Diperluas, Kemnaker Dorong Budaya Kerja Inklusif
Dadang menegaskan, perguruan tinggi tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang pintar secara akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang memiliki karakter, integritas, serta kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.
“Universitas Ma’soem tidak ingin hanya melahirkan lulusan yang pinter saja. Kami ingin melahirkan manusia yang Cageur, Bageur, Pinter,” tegasnya.
Dia menuturkan, konsep Cageur, Bageur, Pinter menjadi nilai yang diharapkan melekat pada setiap lulusan Universitas Ma’soem.
Cageur dimaknai sebagai kondisi sehat secara jasmani dan mental, memiliki cara berpikir yang sehat, serta semangat dan ketangguhan dalam menghadapi kehidupan.
Sedangkan Bageur berarti memiliki akhlak dan perilaku yang baik, jujur, amanah, santun, peduli terhadap sesama, serta menghormati orang tua, dosen, pimpinan, teman, dan masyarakat.
Adapun Pinter tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga mencakup ilmu pengetahuan, kompetensi, keterampilan, kreativitas, inovasi, serta kemampuan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, nilai tersebut menjadi penting karena dunia terus mengalami perubahan. Karena itu, pendidikan tinggi harus mampu mempersiapkan lulusan agar tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang.
Baca Juga:Jaga Pasokan hingga Panen 2027, Bulog Siapkan 1 Juta Ton Beras SPHP Pemkab Tasikmalaya Fokus Genjot Infrastruktur, Setiap Rupiah Harus Bermanfaat
“Kita tidak ingin pendidikan tinggi hanya menghasilkan job seeker, tetapi juga menghasilkan job creator. Karena itu semangat entrepreneurship harus menjadi bagian dari karakter lulusan Universitas Ma’soem,” tuturnya.
Dadang berujar, para lulusan memiliki banyak pilihan dalam menentukan masa depan. Mereka dapat berkarier sebagai karyawan, profesional, birokrat, akademisi, guru maupun peneliti.
Namun, di sisi lain, para lulusan juga didorong memiliki keberanian untuk menjadi entrepreneur, inovator, sekaligus pencipta lapangan pekerjaan.
“Saudara boleh menjadi karyawan. Saudara boleh menjadi profesional. Saudara boleh menjadi birokrat. Saudara boleh menjadi akademisi. Saudara boleh menjadi guru. Saudara boleh menjadi peneliti. Tetapi Saudara juga harus memiliki keberanian untuk menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan pekerjaan,” ujarnya.
