JABAR EKSPRES – Memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026, DBL Indonesia menjadikannya sebagai momentum untuk kembali melihat olahraga tidak hanya dari sisi prestasi, tetapi juga dari seberapa luas masyarakat terlibat dan berpartisipasi di dalamnya.
Memasuki peringatan Haornas ke-43 ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar”. Tema itu menjadi semangat untuk memperluas partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam olahraga. Semangat partisipasi itu menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
Semangat partisipasi itu pula yang diusung DBL Indonesia sejak awal menyelenggarakan kompetisi basket pelajar, 2004 silam. Founder dan CEO DBL Indonesia Azrul Ananda punya filosofi “Partisipasi adalah income, prestasi adalah cost. Jika partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi”.
Baca Juga:Honda DBL Bogor Hadirkan BeAT on BeAT Roadshow, Ajak Pelajar Kenali #Cari_AmanBadai Lumpuhkan Listrik Chicago, Micah Puji Semangat Anak-Anak DBL All-Star Tiga Jam Berlatih Dalam Gelap
Filosofi tersebut menggambarkan cara DBL Indonesia memandang pembangunan olahraga. Prestasi memang menjadi salah satu hasil yang ingin dicapai, tetapi untuk membangun olahraga secara berkelanjutan, ekosistem partisipasinya harus terlebih dahulu diperbesar.
Seiring perjalanannya, partisipasi di DBL bahkan menjadi sebuah mimpi yang dikejar oleh para pelajar. Berpartisipasi dalam DBL bukanlah sebuah paksaan. Banyak anak kini bermimpi sederhana: bisa terlibat di DBL. Baik sebagai pemain basket, pemain dance, maupun suporter sekolah.
Bergabungnya SMA Wijaya Putra Surabaya, SMA Ciputra Kasih, SMAN 2 Bangkalan, SMAN 3 Bangkalan, dan SMA Bumi Progresif Sidoarjo dalam kompetisi Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 adalah sedikit dari cerita tentang mimpi itu. Sekolah-sekolah tersebut sangat antusias melakoni debutnya di DBL.
Dalam sejumlah kesempatan Azrul Ananda kerap menegaskan bahwa prestasi olahraga tidak dapat dibangun secara instan. Sebelum seorang atlet berdiri di podium, ada proses panjang yang dimulai dari kesempatan untuk bermain, berlatih, bertanding, dan terlibat dalam ekosistem olahraga.
“Prestasi itu penting, tetapi prestasi tidak bisa berdiri sendiri. Sebelum ada juara, harus ada anak yang mau bermain. Harus ada sekolah yang memberi kesempatan, orang tua yang mendukung, guru dan pelatih yang membina, serta kompetisi yang menyediakan panggung untuk mereka berpartisipasi,” ujar Azrul.
