Direktur Kampus BINUS @Bandung, Dr. Johan Muliadi Kerta, S.Kom., M.M., melihat peluang besar di kota ini. “Bandung memiliki generasi muda dengan kreativitas dan keberanian bereksperimen yang sangat kuat. Melalui Program Artificial Intelligence di BINUS @Bandung, kami ingin membantu mahasiswa mengembangkan kreativitas tersebut menjadi inovasi berbasis teknologi yang memiliki nilai, dapat diterapkan, dan berpotensi menjadi peluang usaha,” katanya.
Menurutnya, sebuah ide harus ditopang kemampuan memahami pasar, membangun solusi, dan menciptakan nilai. Mahasiswa tidak hanya diarahkan menghasilkan karya, tetapi juga memiliki pola pikir entrepreneurship agar inovasinya bisa diterapkan lebih luas.
Secara akademik, kurikulum Program Artificial Intelligence dirancang multidisiplin. Fondasi matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing, hingga Internet of Things dan robotics digabungkan. Tujuannya membentuk mahasiswa yang tidak hanya paham cara kerja AI, tetapi juga mampu mengevaluasi hasil, mengembangkan solusi, dan menerapkannya secara etis.
Baca Juga:The 2nd Indonesian Royal Enfield Jamboree 2026 – Wingday Diramaikan Komunitas, Kolaborasi Bold RidersAbu Vulkanik Anak Krakatau: Waspada Bersama, Lindungi Bandung
Dekan School of Computer Science BINUS University, Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., M.T.I., menyoroti tantangan utama generasi muda. “Pertanyaan penting saat ini bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apakah generasi muda telah memiliki kompetensi untuk bekerja berdampingan dengan AI. Mahasiswa perlu memiliki fondasi akademik yang kuat agar mampu mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengembangkan solusi, serta menerapkan teknologi secara strategis, etis, dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Di tengah derasnya perkembangan AI, kreativitas manusia tetap berperan penting. Kemampuan memahami masalah, mengeksplorasi kemungkinan, dan melihat kebutuhan dari sudut pandang berbeda menjadi dasar inovasi yang relevan. Melalui pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa didorong menjadikan AI sebagai penguat, bukan pengganti, dalam mengembangkan gagasan, membuat prototipe, dan menciptakan solusi.
Relevansi dengan dunia kerja juga menjadi perhatian utama. Perusahaan kini membutuhkan talenta yang tidak hanya mahir menggunakan perangkat AI, tetapi juga mampu memahami permasalahan bisnis, berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengubah teknologi menjadi solusi nyata.
Pujo Laksono, CEO Kazee Digital Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi pendidikan dan industri. “Industri membutuhkan talenta yang tidak hanya mampu menggunakan berbagai tools AI, tetapi juga memiliki kreativitas dan kemampuan memahami kebutuhan bisnis. Talenta masa depan perlu mampu menerjemahkan teknologi menjadi solusi, produk, atau layanan yang memberikan nilai nyata bagi perusahaan dan masyarakat,” ujarnya.
