Mahasiswa POLSUB Ciptakan Kopi Robusta Rendah Kafein dari Limbah Kulit dan Bonggol Nanas

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi rendah kafein, sekelompok mahasiswa Politeknik Negeri
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi rendah kafein, sekelompok mahasiswa Politeknik Negeri Subang (POLSUB) menghadirkan inovasi yang tidak hanya berfokus pada kesehatan konsumen, tetapi juga keberlanjutan lingkungan
0 Komentar

Dosen pembimbing penelitian, Fenny Aprilliani, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan melalui sepuluh kombinasi perlakuan dengan variasi komposisi ekstrak kulit dan bonggol nanas serta lama perendaman selama 12, 24, dan 48 jam.

Setiap perlakuan kemudian dianalisis berdasarkan karakteristik kimia, meliputi kadar air, kadar abu, pH, total asam tertitrasi, serta kadar kafein. Selain itu, tim juga melaksanakan uji hedonik yang melibatkan 88 panelis untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap kopi yang dihasilkan.

“Kami ingin memastikan bahwa proses dekafeinasi tidak hanya mampu menurunkan kadar kafein, tetapi juga tetap menghasilkan kopi yang disukai dari segi warna, aroma, rasa, tingkat keasaman, hingga kepuasan secara keseluruhan,” jelas Fenny.

Baca Juga:Jenguk Wartawan yang Terbaring Sakit, Kapolres Tasikmalaya Bawa Pesan KepedulianCegah Polisi Main Judol, Propam Polres Tasikmalaya Mendadak Periksa HP Seluruh Personel

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan seluruh perlakuan memenuhi persyaratan mutu berdasarkan SNI 8964:2021. Nilai kadar air berada pada kisaran 3,46–4,44 persen, kadar abu 3,28–4,78 persen, sedangkan nilai pH berkisar antara 4,77 hingga 5,44.

Sementara itu, proses perendaman menggunakan ekstrak kulit dan bonggol nanas terbukti mampu menurunkan kandungan kafein pada kopi robusta dibandingkan sampel kontrol.

Menurut Kori, salah satu perlakuan yang menunjukkan performa kimia paling konsisten adalah formulasi A1B3, yakni kombinasi 25 persen ekstrak kulit dan 75 persen ekstrak bonggol nanas dengan lama perendaman 48 jam.

“Perlakuan tersebut memberikan hasil yang paling konsisten dalam memenuhi parameter kimia yang kami uji sekaligus menunjukkan efektivitas metode dekafeinasi alami yang dikembangkan,” ujarnya.

Menariknya, hasil uji sensorik menunjukkan bahwa perlakuan yang paling disukai panelis justru bukan perlakuan dengan kadar kafein terendah.

Berdasarkan penilaian terhadap warna, aroma, cita rasa, tingkat keasaman, dan kepuasan keseluruhan, formulasi A1B1, yaitu kombinasi 75 persen ekstrak kulit dan 25 persen ekstrak bonggol nanas dengan lama perendaman 12 jam, memperoleh tingkat penerimaan terbaik.

Fenny menjelaskan temuan tersebut menunjukkan bahwa upaya menurunkan kadar kafein perlu tetap mempertimbangkan karakter sensorik kopi agar produk tetap diminati konsumen.

Baca Juga:Rp86 Miliar Digelontorkan untuk Irigasi Tasikmalaya, Naik 3 Kali Lipat dari Tahun LaluTiga Ruas Jalan Rampung, Bupati Cecep: Mudah-mudahan Tak Ada Lagi Mobil Terperosok

“Meskipun kandungan kafeinnya lebih tinggi dibandingkan beberapa perlakuan lainnya, formulasi tersebut memperoleh penilaian sensorik terbaik. Ini menunjukkan adanya keseimbangan yang perlu diperhatikan antara efisiensi dekafeinasi dan kualitas cita rasa kopi,” jelasnya.

0 Komentar