Cerita tentang perjuangan anak-anak tersebut kemudian kembali mencuri perhatian publik setelah video mereka menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit viral di media sosial.
Rekaman yang diunggah akun Instagram @official_desabudiharja memperlihatkan sejumlah siswa SD hingga SMP menaiki rakit setelah pulang sekolah.
Di balik video singkat itu, ada rutinitas panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Baca Juga:Rp86 Miliar Digelontorkan untuk Irigasi Tasikmalaya, Naik 3 Kali Lipat dari Tahun LaluTiga Ruas Jalan Rampung, Bupati Cecep: Mudah-mudahan Tak Ada Lagi Mobil Terperosok
Kepala SD Negeri Budiharja, Kecamatan Cililin, Taufik, mengatakan hingga kini terdapat 16 siswa yang masih menggunakan rakit untuk menuju sekolah.
Mereka terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.
Bagi pihak sekolah, persoalan tersebut bukan semata tentang jarak. Keselamatan dan kenyamanan anak-anak menjadi perhatian utama.
“Ada 16 siswa yang setiap hari masih menggunakan rakit. Kami berharap ada jembatan penyeberangan agar perjalanan mereka lebih aman, cepat, dan mudah. Mudah-mudahan ini juga bisa menambah semangat anak-anak untuk bersekolah,” kata Taufik.
Jika memilih jalur darat, perjalanan anak-anak justru menjadi jauh lebih panjang. Dari Kampung Sadang menuju sekolah, jaraknya mencapai hampir empat kilometer. Dengan berjalan kaki, waktu tempuh dapat mencapai sekitar 30 menit.
Karena itu, rakit menjadi pilihan paling cepat meski bukan pilihan yang sepenuhnya aman.
“Sejak sekitar tahun 1990, sekolah memang sudah membuatkan rakit untuk membantu anak-anak menyeberangi Saguling. Sampai sekarang akses itu masih digunakan karena belum ada jembatan,” ujarnya.
Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Ajak Personel Teladani Akhlak Rasulullah dalam Melayani MasyarakatBupati Tasikmalaya Apresiasi Dua Pelajar Peraih Medali O2SN Nasional 2026, Buah Perjuangan dari Tingkat Daerah
Kekhawatiran juga dirasakan para orang tua. Seperti Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang, setiap pagi harus memastikan anaknya yang duduk di kelas 3 SD bersiap sejak sekitar pukul 06.00 WIB.
Anaknya biasanya diantar Ketua RT menggunakan rakit. Tidak ada sarana transportasi lain yang dapat digunakan untuk menyeberangi waduk.
“Setiap pagi anak saya berangkat sekitar jam 6. Biasanya diantar Pak RT karena memang tidak ada transportasi lain untuk menyeberang,” kata Santi.
Kekhawatiran Santi semakin besar ketika cuaca buruk. Hujan deras membuat kondisi penyeberangan menjadi lebih sulit. Belum lagi ketika eceng gondok memenuhi permukaan waduk.
