Bagi anak-anak, perjalanan yang tampak sederhana itu tetap menyimpan risiko.
“Kalau hujan deras atau eceng gondoknya sedang banyak, saya khawatir. Anak-anak masih kecil, takut terpeleset saat berada di atas rakit,” ujarnya.
Namun, mereka tidak memiliki banyak pilihan. Ketika tidak ada yang mengantar menggunakan rakit, anak-anak harus berjalan kaki memutar menuju sekolah. Perjalanan yang seharusnya hanya sekitar 250 meter berubah menjadi hampir empat kilometer.
Puluhan tahun berlalu, tetapi rakit bambu masih menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju pendidikan.
Baca Juga:Rp86 Miliar Digelontorkan untuk Irigasi Tasikmalaya, Naik 3 Kali Lipat dari Tahun LaluTiga Ruas Jalan Rampung, Bupati Cecep: Mudah-mudahan Tak Ada Lagi Mobil Terperosok
Bukan hanya agar anak-anak tidak lagi harus menyeberangi waduk dengan rakit setiap pagi, tetapi juga agar warga dapat lebih leluasa bekerja, bertani, dan membawa hasil kerajinan tanpa bergantung pada satu-satunya akses penyeberangan tersebut.
“Kami berharap ada jembatan. Bukan hanya untuk anak-anak sekolah, tapi juga untuk warga yang setiap hari bekerja dan beraktivitas di seberang. Kalau ada jembatan, semuanya akan lebih mudah dan aman,” tandas Santi. (Wit)
