Laode memaparkan, semakin terbukanya akses transportasi menuju Bandung turut memberikan peluang bagi kota tersebut untuk berkembang sebagai destinasi wisata medis.
“Orang Indonesia luar daerah pun bisa ke Bandung dengan mudah karena akses dibuka, apalagi ada Whoosh,” paparnya.
“Koneksi antara Jakarta-Bandung maupun luar daerah ke Bandung sekarang sudah bisa dikolaborasikan,” lanjut Laode.
Baca Juga:RSUD Ciamis Gratiskan Biaya Perawatan Balita Gizi Buruk, Hasil Pemeriksaan Holistik Masih DitungguPolres Tasikmalaya Ungkap Kasus Curanmor, 3 Tersangka Diamankan
Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat menjadi bagian dari promosi lintas wilayah maupun lintas negara.
“Bandung makin mantap jadi kota wisata medis dan pariwisata,” tukas Laode.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Kabid Yankes) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dr. Deborah Johana Rattu, mengapresiasi penyelenggaraan HTWF 2026 karena mempertemukan layanan kesehatan dari dalam dan luar negeri dalam satu pameran.
“Baru kali ini saya melihat ada yang disatukan antara Indonesia dengan luar negeri, karena biasanya masing-masing berdiri sendiri,” tuturnya.
Menurut Deborah, kehadiran booth CKG juga menjadi kesempatan bagi masyarakat yang datang ke Paskal untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka secara langsung.
“Dinas Kesehatan di sini juga diizinkan membuka booth CKG gratis barangkali yang memang bisa dimanfaatkan masyarakat,” kata Deborah.
“Jadi mudah-mudahan bisa dimanfaatkan agar mengetahui status kesehatannya seperti apa,” tambahnya.
Baca Juga:Udang Windu Jadi Andalan Ekspor Perikanan, Tembus Pasar GlobalDispertan Garut Dorong Pengembangan Stroberi dan Bawang Putih sebagai Komoditas Alternatif
Deborah menilai keberadaan HTWF 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat potensi medical tourism di Kota Bandung.
Menurutnya, Bandung memiliki dua modal utama, yakni fasilitas kesehatan dan destinasi wisata yang dapat dikembangkan secara terpadu.
“Medical tourism-nya pasti akan sangat positif. Karena kita di Kota Bandung ini khususnya banyak sekali tempat-tempat wisata dan rumah sakit yang baik juga,” ungkapnya.
Deborah menyebutkan, dalam hal ini Pemkot Bandung akan terus menggali keunggulan masing-masing rumah sakit sekaligus mendorong kolaborasi dengan sektor pariwisata.
Konsep tersebut nantinya dapat dikembangkan dalam bentuk paket yang menggabungkan layanan kesehatan dengan perjalanan wisata.
“Mudah-mudahan dengan pelayanan kita yang semakin baik, yang ke luarnya juga akan semakin baik,” imbuhnya.
Deborah menyampaikan, saat ini terdapat dua rumah sakit di Kota Bandung yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan sebagai rumah sakit wisata medis, yakni RSUD Bandung Kiwari dan Santosa Central (Kebonjati).
