Masyarakat Desa Linggaraja Tasikmalaya Gelar Shalat Istisqa Serentak di 4 Titik

Warga
Warga Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, saat melaksanakan Shalat Istisqa. Foto/Video : Hendi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kemarau panjang mulai benar-benar menguji ketahanan warga Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Berbulan-bulan tanpa hujan membuat sumur warga mengering, lahan pertanian tak lagi bisa digarap, hingga rumput untuk pakan ternak pun semakin sulit ditemukan.

Bagi warga yang menggantungkan hidup dari pertanian dan peternakan, kekeringan bukan sekadar persoalan air. Dampaknya merembet ke hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat.

Sawah-sawah yang biasanya menjadi sumber penghidupan kini terlihat kering. Sementara para peternak harus memutar otak agar kambing dan domba mereka tetap mendapatkan pakan.

Baca Juga:Hadapi Puncak Kekeringan dan Karhutla, Pemkab Bandung Perkuat KesiapsiagaanAntisipasi El Nino, Pemkab Bandung Barat Siapkan Langkah Hadapi Ancaman Kekeringan Sawah

Salah satunya dialami Asep, peternak asal Desa Linggaraja. Sudah lebih dari sebulan terakhir ia harus mencari rumput ke wilayah Kota Tasikmalaya karena persediaan pakan hijau di sekitar kampungnya semakin sulit ditemukan.

Setiap pagi ia berangkat mencari rumput dan baru kembali pada sore hari.

“Sudah sebulan lebih mencari rumput ke daerah Tasikmalaya Kota. Di kampung sudah susah, rumput hijau semakin jarang karena kemarau,” kata Asep.

Jarak yang harus ditempuh membuat aktivitas beternak menjadi jauh lebih berat. Jika sebelumnya pakan bisa diperoleh tidak jauh dari rumah, kini para peternak harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memenuhi kebutuhan ternaknya.

Kondisi serupa juga dirasakan sejumlah peternak lainnya di Linggaraja.

Kekeringan yang berkepanjangan membuat sumber pakan alami semakin terbatas. Bagi peternak kecil, kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena kebutuhan pakan ternak harus tetap dipenuhi setiap hari, sementara mencari rumput semakin membutuhkan tenaga, waktu dan biaya.

Di tengah kondisi tersebut, warga Desa Linggaraja tidak hanya berupaya menghadapi dampak kekeringan secara praktis. Mereka juga menempuh ikhtiar keagamaan dengan menggelar shalat istisqa atau shalat meminta hujan.

Menariknya, shalat istisqa dilaksanakan secara serentak di empat titik yang tersebar di empat kedusunan Desa Linggaraja.

Baca Juga:Tak Tergoyahkan Sejak 2021, Penabur Cirebon Kembali Juara DBL West Java-EastKalah Setahun Lalu, Trimulia Balas Niners dan Raih Gelar Perdana DBL West Java-East

Keputusan itu merupakan hasil kesepakatan 20 Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang berada di empat kedusunan. Pelaksanaannya digelar pada Jumat (25/9/2026), setelah pelaksanaan shalat Jumat.

Warga dari berbagai kelompok usia berbondong-bondong menuju lokasi yang telah ditentukan. Salah satu lokasi bahkan mengambil tempat di areal persawahan yang kini kondisinya kering.

0 Komentar