BANDUNG – Pengaktifan kembali Bandara Husein Sastranegara dipastikan memberi angin segar bagi perekonomian Kota Bandung. Akses penerbangan langsung ke berbagai kota akan mempermudah kedatangan wisatawan dan pelaku bisnis.
Namun, menurut Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi, dampaknya tidak akan otomatis signifikan bila tidak diiringi strategi yang mendorong transaksi riil di dalam kota.
“Secara umum pasti memiliki dampak peningkatan ekonomi. Aksesibilitas melalui penerbangan langsung mempermudah orang datang, baik untuk pariwisata maupun bisnis. Secara statistik, nanti akan tercatat di pendapatan daerah, sektor transportasi, akomodasi, dan makan-minum,” ujar Acuviarta kepada Jabar Ekspres, Senin (34/8/2026).
Baca Juga:Final Soekarno Cup, Talenta Muda Tunjukkan Semangat Gotong Royong untuk Korban Gempa NTTBPJS Ketenagakerjaan Ajak Pekerja Manfaatkan Keringanan Iuran 50 Persen JKK dan JKM
Ia menekankan bahwa kedatangan orang saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana mendorong mereka bertransaksi di Kota Bandung. “Tidak cukup hanya aktivasi bandara dan orang yang banyak datang. Tetapi bagaimana mendorong aktivitas kedatangan itu menjadi transaksi,” tegasnya.
Untuk itu, dibutuhkan aksesibilitas transportasi yang memadai dari bandara ke pusat kota, inovasi pusat perdagangan dan bisnis, serta infrastruktur yang mendukung. Multiplier effect ekonomi sangat bergantung pada pemanfaatan peluang ini.
“Seberapa besar dampaknya sangat tergantung kepada bagaimana kita memanfaatkannya. Pusat-pusat perdagangan, pariwisata, aksesibilitas transportasi, dan infrastruktur harus bagus,” katanya.
Acuviarta menyoroti sejumlah langkah praktis yang belum dilakukan. Hotel-hotel, misalnya, seharusnya menyediakan layanan jemputan bandara bagi tamu. “Saya lihat di berbagai daerah sudah seperti itu,” ujarnya.
Selain itu, program diskon bagi wisatawan yang menunjukkan tiket pesawat juga bisa digalakkan. “Mau mendiskon barang-barang jualan, tinggal tunjukin tiket. Kasih diskon 10 persen. Cara-cara seperti ini belum dilakukan. Ini harus diperbaiki. Karena banyak orang datang tapi tidak ada transaksi, ya percuma,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan realitas geografis. Wisata alam yang menjadi daya tarik utama justru berada di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. “Kalau orang mengakses wisata alam, kita (Kota Bandung) tidak punya. Yang punya kan KBB sama Kabupaten Bandung. Yang menikmati mungkin mereka,” katanya.
Menurut Acuviarta, inovasi yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung masih sangat terbatas. “Hanya sebagian kecil. Hanya perbaikan jalan dan trotoar, serta akses. Kabarnya juga ada angkot listrik dari Ledeng. Hal-hal semacam itu belum mumpuni. Belum mencakup pengembangan sektor usahanya,” kritiknya.
