Ia menyoroti nasib kawasan industri kecil yang tidak berkembang signifikan. “Bagaimana nasib Cikondewa, Cibaduyut, rajutan Binongjati, Tahu Cibuntu. Bagaimana mendevelopnya tidak hanya produksi tahu, tapi menjadi bahan olahan konsumsi yang tidak hanya digoreng dan digehu,” pintanya.
Pengembangan UMKM masih sangat terbatas. Penataan PKL yang membuat kota lebih bersih dan ramah lingkungan dinilai bagus, tetapi harus diimbangi dengan tempat berjualan yang representatif. “Kalau tidak ditangani, bisa menimbulkan pengangguran baru. Di Surabaya dan DKI Jakarta kan bisa. Masa di Bandung tidak bisa? Ini kembali kepada komitmen pemerintahnya,” terangnya.
Job Fair Perlu Dievaluasi
Terkait job fair yang digelar Pemkot, Acuviarta meminta evaluasi menyeluruh. “Job fair itu basisnya sertifikasi. Perlu dilihat apakah sesuai dengan tingkat pendidikan, komposisi umur, demografi, dan keahlian masyarakat Kota Bandung,” bebernya.
Baca Juga:Final Soekarno Cup, Talenta Muda Tunjukkan Semangat Gotong Royong untuk Korban Gempa NTTBPJS Ketenagakerjaan Ajak Pekerja Manfaatkan Keringanan Iuran 50 Persen JKK dan JKM
Job fair memang bagus sebagai pertemuan pasar tenaga kerja, tetapi persiapan tenaga kerja jauh lebih penting. “Bagaimana kita mempersiapkan tenaga kerja agar optimal memanfaatkan job fair. Itu perlu dilakukan. Bola-bola pendidikan dan pelatihan, anggarannya besar,” katanya.
Dengan segala catatan kritis tersebut, Acuviarta menekankan bahwa peluang dari pengaktifan Bandara Husein Sastranegara hanya akan menjadi cerita di atas kertas bila tidak diikuti langkah konkret, inovatif, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat secara merata. (tur)
