JABAR EKSPRES – Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) mulai melakukan uji coba angkot listrik Feeder yang disiapkan untuk melayani rute Bandara Internasional Husein Sastranegara hingga Terminal Ledeng, Kota Bandung.
Ketua Kopamas, Budi Kurnia mengatakan, uji coba tersebut dilakukan untuk mengukur kemampuan dan ketahanan kendaraan atau durabilitas, sekaligus melihat respons masyarakat terhadap penggunaan angkot listrik.
Menurut Budi, keberadaan penumpang dalam uji coba menjadi penting untuk memperoleh data load factor atau tingkat keterisian kendaraan secara langsung.
Baca Juga:Kemarau Belum Usai, Tagana Terus Pasok Air Bersih untuk Warga TasikmalayaLeuwikeris Disiapkan Jadi Destinasi Agrowisata, Infrastruktur Didorong Beri Nilai Tambah Ekonomi
“Kami berharap masyarakat bisa naik, sehingga kami kemudian bisa menghitung load factor secara real time, bukan berdasarkan asumsi,” ujar Budi, saat ditemui di kantor Jalan Sarimanah, Kamis (20/8).
Selain menguji kendaraan, uji coba juga menjadi sarana bagi para pengemudi untuk beradaptasi dengan karakter kendaraan listrik yang berbeda dengan angkot konvensional.
“Pengoperasian kendaraan listrik ini relatif berbeda. Biasanya kami menggunakan manual, sementara ini matik dan semuanya otomatis,” katanya.
Budi menyebut data hasil uji coba nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan layanan angkutan pengumpan atau feeder di Kota Bandung maupun wilayah Jawa Barat.
Kopamas juga berharap dapat terlibat sebagai operator feeder yang mendukung keberadaan Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung.
Budi menjelaskan, kehadiran BRT membuat jaringan angkot perlu ditata ulang agar tidak terjadi tumpang tindih rute yang terlalu panjang.
Salah satu rute eksisting Kopamas yakni Cibogo Atas–halte Andir akan dilakukan rerouting agar dapat mendukung sistem transportasi terintegrasi dan berfungsi sebagai pengumpan BRT.
Baca Juga:Dua Hari Berturut-turut, Api Sambar Rumah Warga dan Lahan Sampah di TasikmalayaHari Jadi Ke-81 Jateng: Dari Sawah Jawa Tengah untuk Meja Makan Indonesia
“Angkot di Bandung ini harus dilakukan rerouting supaya tidak beririsan panjang dengan BRT,” ujarnya.
Menurutnya, proses rerouting tidak mudah karena harus mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari load factor hingga potensi gesekan dengan pengusaha atau pengemudi angkot pada trayek lainnya.
Karena itu, Kopamas tidak hanya melakukan peremajaan kendaraan menggunakan kendaraan listrik, tetapi juga menata kembali rute angkot agar dapat terintegrasi dengan sistem transportasi massal.
Dari sisi spesifikasi, kendaraan listrik yang diuji coba tersebut memiliki daya baterai 50 kW. Kendaraan memiliki berat sekitar 2 ton dengan panjang sekitar 4 meter.
