JABAR EKSPRES – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di tengah musim kemarau.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul masih terjadinya sejumlah peristiwa kebakaran di wilayah Kabupaten Tasikmalaya dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi cuaca yang panas dan kering membuat berbagai material, mulai dari rumput, semak, daun kering hingga sampah, lebih mudah terbakar.
Salah satu kejadian terbaru terjadi pada Sabtu (15/8/2026), ketika dua rumah warga di Kampung Cilampunggirang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, terbakar. Peristiwa tersebut menambah perhatian terhadap ancaman kebakaran permukiman di tengah kondisi musim kemarau.
Baca Juga:Kebakaran Hebat di Cibabat Cimahi, Api Sempat Membesar dari Bawah Tumpukan KayuGawat! 73 Kebakaran Melanda KBB Sepanjang Juli 2026
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, mengatakan rentetan kejadian kebakaran menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak menganggap sepele sumber api sekecil apa pun.
“Musim kemarau seperti sekarang memang harus menjadi perhatian kita bersama. Kondisi yang panas dan kering membuat bahan-bahan mudah terbakar, sehingga sedikit saja ada kelalaian bisa memicu kebakaran,” kata Roni, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, ancaman kebakaran tidak hanya terjadi di kawasan hutan dan lahan. Permukiman, kebun, lahan kosong hingga tempat pembuangan sampah juga memiliki potensi terbakar apabila terdapat sumber api dan material yang mudah terbakar.
Karena itu, BPBD meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas yang menggunakan sumber panas.
Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang banyak terdapat rumput kering, semak, dedaunan maupun material mudah terbakar.
“Jangan membakar sampah di dekat lahan kosong, kebun atau kawasan yang banyak material kering. Kalau memang terpaksa melakukan pembakaran, harus ada pengawasan dan dipastikan api benar-benar padam,” ujarnya.
Roni menegaskan, kebakaran lahan juga dapat menimbulkan dampak berantai. Selain merusak ekosistem dan vegetasi, asap kebakaran dapat mengganggu kualitas udara serta kesehatan masyarakat. Dalam jangka panjang, hilangnya vegetasi dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir dan longsor.
Baca Juga:Peduli Kebakaran Cimenyan-Kota Banjar, Perumdam Tirta Anom Salurkan Bantuan hingga Beri Keringanan TagihanKorban Kebakaran Sodonghilir Mulai Terima Bantuan Darurat, Delapan Rumah Rusak Berat
“Yang perlu kita cegah bukan hanya apinya, tetapi juga dampaknya. Asap bisa mengganggu kesehatan, sementara hutan atau lahan yang terbakar akan kehilangan fungsi ekologisnya,” katanya.
