Keenam, membuat fasilitas ramah lingkungan dan klinik ASER (Aman Sehat dan Pulih) yang dikhususkan bagi masyarakat dan pekerja tambang.
Ketujuh, merencanakan pembangunan danau atau embung tadah hujan di kawasan bekas tambang yang ramah lingkungan untuk membantu mengurangi krisis air ketika musim kemarau.
Kedelapan, melakukan penyiraman di jalan, area pabrik, dan lokasi lainnya untuk mengurangi dampak debu di kawasan terdampak.
Baca Juga:Viral Ibu Muda Ngamuk di SPBU Cipatujah, Polisi Ungkap Fakta di Balik Antrean Jeriken BBMKemarau Makin Mengering, Petugas Kembali Salurkan 12.000 Liter Air Bersih ke Dua Desa di Tasikmalaya
Taofik menilai delapan poin tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keseimbangan antara kepentingan investasi, keberlangsungan usaha, keselamatan pekerja, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pemulihan lingkungan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan mata pencaharian masyarakat. Karena itu, transisi kawasan tambang harus dipersiapkan secara bersama-sama.
“Yang kami bangun adalah keseimbangan. Lingkungan harus sehat, masyarakat tetap punya sumber penghidupan, pekerja terlindungi, usaha tetap berkelanjutan, dan investasi berjalan secara bertanggung jawab,” kata Taofik. (Wit)
