Library Cafe, Inovasi Modern Pembuka Nilai Tambah Ekraf?

Library Cafe, Inovasi Modern Pembuka Nilai Tambah Ekraf?
Ilustrasi seorang pengunjung tengah membaca di library cafe. Dok. Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kolaborasi lintas subsektor antara dunia kuliner dengan penerbitan dalam konsep library-cafe, diklaim membuka nilai tambah ekonomi kreatif yang baru.

Inovasi library-cafe ini dinilai mampu menjadi sumber nilai tambah baru bagi para pelaku usaha kuliner dan penerbitan, sekaligus memperkuat budaya literasi masyarakat.

Bahkan, Menteri Ekonomi Kreatif/Kapala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya memandang konsep library-cafe, sebagai inovasi yang mencerminkan masa depan industri kreatif.

Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Ikuti Patroli Malam, Sasar Titik Keramaian dan Rawan C3Kemarau Makin Parah, Petugas Gabungan Salurkan 11.500 Liter Air Bersih di Desa Tanjungjaya

“Integrasi antara ruang baca dan sajian kuliner ini merupakan inovasi segar yang mencerminkan masa depan industri kreatif kita,” ujarnya secara tertulis, Senin (10/8/2026)

Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, lanjut dia, nilai tambah produk lokal dapat meningkat secara eksponensial guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurutnya, integrasi kedua subsektor ini ini dinilai strategis dalam memperluas ekosistem ruang baca publik, terutama melalui adopsi tren model bisnis baru berupa library-cafe yang kian diminati masyarakat.

Konsep ekraf modern ini juga, kata dia, menunjukkan bahwa ruang usaha bukan sekadar tempat transaksi, tetapi juga menjadi ruang bertemunya komunitas, gagasan, dan berbagai produk ekonomi kreatif.

Data Kementerian Ekraf mencatat subsektor kuliner menjadi penyumbang kontribusi terbesar terhadap ekonomi kreatif, yakni mencapai 41,06 persen pada 2025 dengan pertumbuhan 8,44 persen. Pada Januari-April 2026, subsektor tersebut juga mencatat nilai ekspor sebesar 0,28 miliar dolar AS.

Sementara itu, subsektor penerbitan memberikan kontribusi 5,35 persen terhadap ekonomi kreatif pada 2025 dengan pertumbuhan 3 persen. Nilai ekspor subsektor penerbitan mencapai 4,47 juta dolar AS pada Januari-April 2026.

Maka itu ia mendukung pembukaan AKC Library & Cafe di Jakarta yang merupakan ruang publik berkonsep book club dan kafe kebijakan luar negeri pertama di Jakarta yang diinisiasi oleh diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal. Tempat ini menghadirkan ruang baca, ruang diskusi isu global, serta koleksi buku nonfiksi hasil donasi para tokoh nasional dan diplomat.

Baca Juga:Menkeu Tambah Penempatan Dana SAL di Himbara Rp40 Triliun, Tak Tunggu Arahan Gubernur BI?Purbaya Klaim Whoosh Tak Bebani APBN Usai Diambilalih Kemenkeu, Benarkah?

“Kami berharap AKC Library & Cafe dapat menjadi inkubator kreativitas tempat para pelaku industri saling bertukar gagasan dan menciptakan karya nyata, Kementerian Ekraf akan terus mendukung inisiatif serupa demi memperluas akses masyarakat terhadap ruang edukasi yang berkualitas,” ujar Teuku Riefky.

0 Komentar