JABAR EKSPRES – Bupati Bandung Dadang Supriatna meminta tenaga kesehatan (nakes) yang diduga melakukan perundungan atau bullying terhadap pasien melalui media sosial ditindak sesuai aturan yang berlaku.
Dadang mengaku prihatin dengan adanya perilaku tersebut. Terlebih, tindakan yang diduga dilakukan nakes itu terjadi saat pasien masih hidup dan kemudian meninggal dunia.
“Saya sangat kecewa dan prihatin. Kok nakes bisa mem-bully pasien? Ini keterlaluan. Karena itu saya perintahkan BKPSDM agar diberikan sanksi,” kata Dadang dalam keterangan resmi, Senin (10/8/2026).
Baca Juga:Prabowo Pangkas Anak Perusahaan BUMN PLN hingga Pertamina?Library Cafe, Inovasi Modern Pembuka Nilai Tambah Ekraf?
Menurut Dadang, nakes yang bersangkutan diketahui berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Karena itu, ia meminta proses penjatuhan sanksi dilakukan melalui mekanisme kepegawaian yang berlaku.
“Kalau PPPK, ya sudah, kalau memang mau diputus atau diberikan sanksi secara langsung, itu sudah dilakukan sesuai mekanisme,” ujarnya.
Dadang menilai kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya Dinas Kesehatan dan para pimpinan rumah sakit.
Ia mengingatkan, tindakan satu orang aparatur berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap seluruh institusi pelayanan publik.
“Saya berharap ke depan jangan sampai terjadi lagi. Saya titip kepada Dinas Kesehatan dan para direktur rumah sakit, betul-betul perbaiki hal ini,” ucapnya.
Selain persoalan disiplin, Dadang melihat kasus tersebut berkaitan erat dengan karakter dan etika aparatur dalam menjalankan tugas.
Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Ikuti Patroli Malam, Sasar Titik Keramaian dan Rawan C3Kemarau Makin Parah, Petugas Gabungan Salurkan 11.500 Liter Air Bersih di Desa Tanjungjaya
Menurutnya, pembinaan terhadap pegawai tidak cukup hanya dilakukan melalui aturan kedinasan, tetapi juga harus menyentuh aspek sikap dan perilaku.
Padahal, kata dia, Pemkab Bandung secara rutin menggelar pembinaan spiritual bagi para ASN setiap bulan. Namun, masih adanya perilaku yang dinilai tidak pantas menunjukkan perlunya penguatan pembinaan karakter secara personal.
“Kita setiap satu bulan sekali ada siraman rohani. Bayangkan, kita sudah rutin melakukan itu, masih ada yang seperti ini. Ini persoalan karakter dan kepekaan spiritual secara personal,” tuturnya.
Dadang pun mengingatkan seluruh aparatur agar memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan, termasuk aktivitas di media sosial.
Sebab, perilaku individu dapat membawa dampak terhadap nama baik institusi tempatnya bekerja.
