JABAR EKSPRES – Taman Safari Indonesia kembali menggelar International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026 atau kompetisi fotografi dan videografi satwa dengan mengusung tema “From Lens to Legacy” atau “Dari Lensa Menjadi Warisan”.
Memasuki penyelenggaraan ke-35, IAPVC tidak hanya menjadi ajang kompetisi fotografi dan videografi, tetapi juga mendorong lahirnya karya yang dapat menginspirasi kepedulian dan aksi nyata untuk menjaga kelestarian alam dan satwa bagi generasi mendatang.
Senior Vice President Marketing Taman Safari Indonesia, Alexander Zulkarnain, mengatakan pengambilan karya IAPVC 2026 mengusung konsep “Mata yang Berbicara”, yang menggambarkan mata satwa sebagai cerminan kehidupan dan kebahagiaan mereka sebagai bagian dari ekosistem alam.
Baca Juga:Peluang Investasi Terbuka Lebar, Pemerintah Libatkan Swasta dalam Program Strategis PanganOJK Tegaskan Keuangan Tetap Sehat, Defisit di Laporan 2025 Hanya Dampak Transisi Akuntansi
“Mata satwa liar merefleksikan kebahagiaan mereka, jadi satwa juga menganggap manusia sebagai bagian dari ekosistem alam yang dapat hidup secara harmonis dengan mereka. Mata adalah jendela hati, sementara satwa merupakan bagian dari ekosistem yang memiliki nurani dan ketulusan,” ujar Alexander di Taman Safari Indonesia Bogor, Sabtu (8/8/2026).
Kompetisi IAPVC 2026 berlangsung mulai Agustus hingga November 2026, dengan pengumuman pemenang pada akhir rangkaian kompetisi.
Sementara pengambilan karya dalam rangkaian roadshow berlangsung selama dua hari di tiga lokasi, yakni Taman Safari Indonesia Bogor, Solo Safari, dan Taman Safari Indonesia Prigen.
Pengumpulan karya ditargetkan paling lambat pada akhir September.
Tahun ini, IAPVC pun memperluas kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi.
Kompetisi tidak hanya menyasar fotografer dan videografer profesional, tetapi juga membuka ruang bagi kreator, anak-anak, serta masyarakat umum yang dapat menggunakan berbagai perangkat fotografi maupun videografi.
“Tahun ini ada satu gebrakan untuk mengelaborasikan sekaligus mengkolaborasikan antara para fotografer, videografer, dan kreator. Mereka tetap bisa berkontribusi untuk mengkampanyekan kelestarian alam, lingkungan dan juga satwa liar. Jadi tidak hanya profesional atau yang memiliki kamera profesional saja, tetapi juga masyarakat, kreator, hingga anak-anak juga bisa mengikuti event ini,” ujarnya.
Masyarakat yang tidak memiliki atau tidak membawa peralatan fotografi dan videografi juga tetap bisa mengikuti kompetisi karena panitia menyediakan sejumlah perangkat yang dapat digunakan.
