Menaikkan PAD Banjar: Saatnya Berhenti Bergantung pada Transfer Pusat dan Tak Hanya Jadi Kota Persinggahan

Menaikkan PAD Banjar: Saatnya Berhenti Bergantung pada Transfer Pusat dan Tak Hanya Jadi Kota Persinggahan
Saddam Hibatullah. (Istimewa/dok pribadi)
0 Komentar

Oleh: Saddam Hibatullah

Ketika berbicara mengenai pembangunan daerah, hampir semua kepala daerah memiliki cita-cita yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, cita-cita tersebut hanya akan menjadi slogan apabila tidak ditopang oleh kemampuan keuangan daerah yang memadai. Salah satu indikator pentingnya adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Semakin besar PAD, semakin mandiri suatu daerah dalam membiayai pembangunan. Sebaliknya, apabila sebagian besar anggaran masih bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat, ruang gerak pemerintah daerah menjadi semakin terbatas.

Kota Banjar berada pada kondisi tersebut. Sebagai kota dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang relatif kecil, Banjar menghadapi tantangan untuk meningkatkan PAD di tengah keterbatasan potensi industri dan investasi. Akan tetapi, keterbatasan bukan berarti tidak memiliki peluang. Persoalan terbesar Kota Banjar bukan semata-mata minimnya sumber daya, melainkan belum optimalnya pemanfaatan potensi yang sudah dimiliki.

Salah satu potensi terbesar Banjar adalah letak geografisnya. Kota ini merupakan gerbang paling timur Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Ribuan kendaraan melintasi Banjar setiap hari. Bus antarkota, kendaraan pribadi, hingga angkutan logistik menjadikan Banjar sebagai salah satu jalur transportasi penting di Pulau Jawa.

Baca Juga:Genjot PAD 2026, BPKPD Kota Banjar Masifkan Sosialisasi Pajak DaerahGenjot PADes, Pemdes Sinartanjung-Banjar Sewakan Mobil Maskara Rp225 Ribu per Hari untuk Dapur MBG

Ironisnya, sebagian besar hanya melintas. Orang datang, tetapi tidak berhenti. Mereka membeli bahan bakar, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Uang yang seharusnya dapat berputar di Kota Banjar justru berpindah ke daerah lain. Di sinilah perubahan paradigma harus dimulai.

Pemerintah Kota Banjar tidak cukup hanya membangun jalan, trotoar, atau taman kota. Yang lebih penting adalah membangun alasan agar orang mau singgah. Kawasan kuliner yang tertata, pusat oleh-oleh khas, ruang publik yang nyaman, agenda festival budaya sepanjang tahun, hingga kawasan ekonomi kreatif dapat menjadi daya tarik baru. Kota-kota kecil di Indonesia telah membuktikan bahwa identitas daerah mampu menjadi mesin ekonomi apabila dikelola secara konsisten.

Selain itu, Banjar juga memerlukan identitas yang lebih kuat. Ketika orang mendengar nama Yogyakarta, mereka teringat Malioboro. Ketika mendengar Bandung, mereka membayangkan wisata belanja dan kuliner. Lalu, apa yang langsung terlintas ketika orang mendengar nama Kota Banjar? Pertanyaan tersebut perlu dijawab bersama. Membangun identitas kota bukan sekadar membuat slogan, tetapi menghadirkan pengalaman yang membuat orang ingin kembali.

0 Komentar