Meski demikian, Anisah mengingatkan warga untuk tetap bersyukur karena hingga saat ini air masih tersedia meski jumlahnya terbatas.
“Satu kita harus bersyukur, itu. Masih ada air walaupun kita kemarau panjang,” katanya.
Warga lainnya, Atminah (54), mengaku kondisi debit air yang mengecil saat musim kemarau membuat aktivitas rumah tangga menjadi lebih sulit karena harus menunggu lebih lama untuk menampung air dalam jumlah yang cukup.
Baca Juga:Dipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah SekolahPemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga Pendanaan
Saat debit air masih normal, Atminah dapat mengisi satu ember besar dalam waktu sekitar 30 menit. Namun, ketika musim kemarau, proses pengisian air bisa memakan waktu hingga dua jam.
“Kalau airnya pas kemarau gini kecil, kricik-kricik. Ngisinya bisa sejam atau dua jam. Kalau lagi musim hujan kan air banyak, ngisinya cepat, paling setengah jam sudah penuh. Capek sih, tapi mau gimana lagi, memang sudah risikonya gini setiap musim kemarau,” ucap Atminah.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Atminah mengaku harus menampung air sejak malam hari sebagai stok agar kebutuhan air pada keesokan harinya tetap tersedia.
Ia biasanya menampung air menggunakan tiga ember besar. Air yang telah ditampung kemudian dipindahkan ke bak penampungan yang terhubung dengan mesin jet pump untuk dialirkan menuju toren berkapasitas sekitar 500 liter.
Dari toren tersebut, air kemudian dapat dialirkan secara otomatis melalui keran yang telah dipasang di rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Ngakalin biar air cukup tuh jadi pas malam nyetok air di ember. Kalau enggak begitu, pagi mau mandi atau masak dan lainnya bakal susah,” katanya.
Ia mengakui kebiasaan menampung air tersebut cukup merepotkan karena harus menyesuaikan waktu dan memastikan persediaan air mencukupi.
Baca Juga:KNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi PrioritasBawa Nama Polda Jabar, Anggota Satlantas Polres Tasikmalaya Briptu Dhiva Persembahkan Emas Kapolri Cup 2026
Terlebih pada malam hari, Atminah bersama keluarganya harus menyempatkan waktu untuk mengecek dan mengisi penampungan air ketika debit air mulai mengalir.
“Ya risiko lah kalau mau punya air melimpah pas kemarau gini. Kadang tidur juga terganggu sih karena harus nampung air dulu. Tapi daripada paginya kekurangan air bahkan sampai enggak ada air, ya lebih baik malam-malam disiapkan dulu,” ucapnya.
