JABAR EKSPRES – Persoalan stunting pada balita masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Cimahi. Berdasarkan hasil pendataan tahun 2025 hingga 2026, tercatat sebanyak 2.668 balita masuk kategori stunting dengan persentase mencapai 9,62 persen dari total balita yang terdata.
Angka tersebut menunjukkan adanya perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah balita stunting di Kota Cimahi tercatat sebanyak 2.625 kasus atau sebesar 9,81 persen.
Meski secara persentase mengalami penurunan, pemerintah daerah tetap melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk memastikan upaya penanganan stunting berjalan sesuai kondisi di lapangan.
Baca Juga:Truk Muatan Hebel Terguling Akibat Pecah Ban di Kemang Bogor, Kerugian Rp5 JutaInventarisir Aset, Pemkab Tasikmalaya Segera Tertibkan Sawah hingga Lahan Kosong di Kawasan Bojongkoneng
Berdasarkan wilayah, Kecamatan Cimahi Utara mencatat angka balita stunting tertinggi pada 2026 dengan 860 kasus atau 10,84 persen. Kemudian Kecamatan Cimahi Tengah berada di angka 9,19 persen dengan jumlah 281 kasus, sementara Kecamatan Cimahi Selatan mencatat 1.045 kasus atau 8,48 persen.
Untuk memastikan data tersebut sesuai dengan kondisi aktual, hasil pengukuran dan pencatatan melalui kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) kembali dilakukan evaluasi serta validasi oleh petugas gizi di masing-masing puskesmas.
Validasi data tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program intervensi stunting dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Reri Marliah mengatakan, faktor risiko stunting bersifat multifaktor dan multisektoral. Menurutnya, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga dipengaruhi faktor nonkesehatan seperti ketahanan pangan, lingkungan sosial, lingkungan kesehatan, hingga kondisi pemukiman.
“Faktor risiko stunting merupakan risiko yang multifaktor dan multisektoral, kesehatan dan non kesehatan, mulai dari ketahanan pangan, lingkungan sosial, lingkungan kesehatan, dan lingkungan pemukiman. Sehingga upaya intervensi yang dilakukan juga terbagi ke dalam dua kelompok yaitu intervensi gizi sensitif (bidang kesehatan) dan intervensi gizi spesifik (bidang kesehatan),” kata Reri kepada Jabar Ekspres, Kamis (25/6/26).
Ia menjelaskan, penanganan stunting di Kota Cimahi lebih diarahkan pada upaya pencegahan sejak tingkat akar permasalahan. Hal tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan terhadap kasus stunting yang sudah terjadi.
“Kegiatan penanganan stunting di Kota Cimahi lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan pada tahapan pencegahan stunting di tingkat akar permasalahan, karena penanganan stunting lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan penanganan kasus stunting yang telah terjadi,” ujarnya.
