Reri menyebutkan, sejumlah program telah dilakukan Dinas Kesehatan Kota Cimahi dalam menekan angka stunting, mulai dari koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat kota melalui rembuk stunting, review kinerja stunting, pemetaan dan analisis situasi stunting, hingga audit kasus stunting.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan konseling gizi di puskesmas dan posyandu, penyuluhan pola asuh yang baik kepada kader serta ibu balita atau pengasuh, penyuluhan Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak (PMBA), hingga kunjungan rumah terhadap balita dengan kondisi 2T, wasting, stunting, dan underweight.
“Upaya Dinas Kesehatan Cimahi dalam menurunkan prevalensi stunting juga melalui penyuluhan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Kelas Ibu, KP-ASI, dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT/PMT-P),” terang Reri.
Baca Juga:Truk Muatan Hebel Terguling Akibat Pecah Ban di Kemang Bogor, Kerugian Rp5 JutaInventarisir Aset, Pemkab Tasikmalaya Segera Tertibkan Sawah hingga Lahan Kosong di Kawasan Bojongkoneng
Lebih lanjut, Reri menegaskan strategi penanganan stunting di Kota Cimahi mengacu pada strategi konvergensi nasional dengan melibatkan berbagai sektor terkait untuk mempercepat penurunan angka stunting.
“Pada dasarnya strategi penanganan stunting di Kota Cimahi sesuai dengan strategi konvergensi yang ditetapkan dari nasional dimana melibatkan multisektor terkait di dalam percepatan penurunan stunting,” tuturnya.
Ke depan, kata Reri, pihaknya akan meningkatkan cakupan dan kualitas program melalui penguatan kapasitas kader kesehatan melalui pelatihan 25 keterampilan kader, peningkatan cakupan serta kualitas pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) melalui kelas ibu hamil dan penguatan jejaring dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, peningkatan kualitas pemberian ASI juga menjadi perhatian melalui pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan edukasi ASI eksklusif, serta peningkatan kualitas pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) melalui edukasi praktik PMBA yang tepat.
“Yang kami akan tingkatkan dimasa yang akan datang adalah peningkatan jumlah cakupan dan kualitas program melalui peningkatan kapasitas kader kesehatan melalui pelatihan 25 keterampilan kader, peningkatan cakupan dan kualitas ANC melalui kelas ibu hamil dan peningkatan jejaring dengan fasyankes, peningkatan kualitas pemberian ASI melalui IMD dan edukasi ASI eksklusif, juga peningkatan kualitas pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) melalui edukasi praktek PMBA (Pemberian makan bayi dan anak) secara tepat,” tutur Reri.
