JABAR EKSPRES – Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Cimahi yang ke-25 seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam, bukan sekadar perayaan seremonial.
Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Penjara, Andi Halim, menilai bahwa selama seperempat abad berdiri, belum ada perubahan struktural yang benar-benar nyata di Kota Cimahi.
Salah satu sorotan tajam tertuju pada mandeknya pemekaran wilayah. Hingga hari ini, Cimahi masih tetap bertahan dengan 3 kecamatan.
Baca Juga:Gandeng Komunitas MC.BDG, BPJS Ketenagakerjaan Bandung Suci Amankan Pekerja Informal dari Risiko KerjaMenuju Panggung Dunia: 12 Tim Terbaik Siap Unjuk Gigi di MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2026
Menurutnya, kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cimahi, Ngatiyana-Adhita belum mampu memenuhi amanat Undang-Undang Otonomi Daerah yang mewajibkan minimal memiliki 4 kecamatan untuk sebuah daerah otonom.
“Salah satu janji Wali Kota dan Wakil Wali Kota adalah menambah luas wilayah Cimahi, namun sampai dengan saat ini masih jalan di tempat,” beber Andi kepada media, baru-baru ini.
Jangan Alergi Kritik dan Tutup Mata
Andi Halim juga mengingatkan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi tidak alergi terhadap suara-suara sumbang dari masyarakat. Menurutnya, kritik bukanlah musuh pemerintah, melainkan obat penawar agar kekuasaan tidak tersesat dalam kegelapan.
“Pemkot tidak boleh menutup mata; akuntabilitas wajib ditingkatkan berlipat ganda,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterbatasan wilayah Cimahi yang hanya memiliki 15 kelurahan sama sekali tidak boleh dijadikan pembenaran bagi penguasa untuk mempersempit ruang demokrasi atau membungkam suara kritis warganya.
“Checks and balances harus tetap menyala agar janji-janji manis politik saat kampanye tidak menguap begitu saja di laci-laci meja kerja pejabat,” bebernya.
Sederet Rapor Merah: Dari Stunting hingga Ekonomi Ringkih
Kritik LSM Penjara bukan tanpa alasan. Jika membedah sektor ekonomi, kota dengan tiga kecamatan ini dinilai terlampau ringkih. Sebesar 45,70 persen perekonomian Cimahi masih bergantung pada industri pengolahan konvensional yang kini megap-megap dihantam transformasi global.
Baca Juga:Gebrakan Baru Percasi Jabar: Dorong Catur Jadi Muatan Lokal hingga Siapkan Beasiswa PendidikanKetua Umum LSM Penjara: Pimpinan Dewan dan Wawalkot Tak Hargai Tokoh Sekber Cimahi Otonom di HUT Kota ke 25
Lebih miris lagi, di balik megahnya gedung pemerintahan, potret sosial masyarakatnya masih memprihatinkan:
Kesehatan: Angka stunting balita masih “nangkring” di angka 21,43 persen—sebuah tamparan keras bagi sektor kesehatan.Ketenagakerjaan: Angka pengangguran terbuka masih betah mendekati dua digit (hampir 10 persen).Lingkungan: Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) jeblok di skor 50,35.Infrastruktur: Keruwetan kronis yang tak kunjung usai, mulai dari kemacetan abadi hingga penataan Pasar Antri yang karut-marut.Ujian Berat Fiskal yang “Sesak” Belanja Pegawai
