Meski Kasus DBD di Ciamis Menurun Signifikan Sepanjang Januari–Agustus 2026, 5 Orang Meninggal Dunia

Meski Kasus DBD di Ciamis Menurun Signifikan Sepanjang Januari–Agustus 2026, Lima Orang Dilaporkan Meninggal D
Meski Kasus DBD di Ciamis Menurun Signifikan Sepanjang Januari–Agustus 2026, Lima Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menunjukkan tren penurunan sepanjang periode Januari hingga Agustus 2026. Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mencatat total 322 kasus DBD selama delapan bulan tersebut. Meski secara angka mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini tetap menimbulkan korban jiwa. Lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus dengue.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Edis Herdis, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah kasus tahun ini tidak serta-merta membuat wilayahnya bebas dari ancaman DBD. Menurutnya, meskipun angka kasus menurun, kejadian kematian tetap menjadi perhatian serius pihaknya. Data yang dihimpun menunjukkan distribusi kasus per bulan sepanjang 2026 bergerak fluktuatif sebelum akhirnya melandai pada pertengahan tahun.

Pada Januari tercatat 47 kasus, Februari 44 kasus, Maret 43 kasus, April 51 kasus, Mei 44 kasus, Juni 43 kasus, Juli 27 kasus, dan Agustus 12 kasus. Pola ini menggambarkan bahwa puncak kasus terjadi pada April, kemudian berangsur-angsur menurun hingga Agustus.

Baca Juga:Lewat Science Day 2026, UIKA Bogor Kenalkan Inovasi Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Berbasis Komunitas Pakar Unpad: Program LUTD PLN UID Jabar Perlu Sesuaikan Karakter Wilayah

Dilihat dari karakteristik penderita, DBD di Ciamis mayoritas menimpa kelompok usia anak-anak dan remaja. Selain itu, berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mendominasi dengan 164 kasus, sedangkan perempuan tercatat 147 kasus.

Dominasi kelompok usia produktif dan anak-anak ini menjadi catatan penting bagi dinas kesehatan setempat karena kelompok tersebut merupakan populasi yang aktif bergerak di luar ruangan, sehingga berisiko lebih tinggi terpapar gigitan nyamuk penular.

Edis menjelaskan bahwa pihaknya terus menggencarkan berbagai langkah pencegahan untuk menekan angka kasus DBD. Salah satu strategi utama yang diandalkan adalah Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J), yakni program yang mewajibkan setiap rumah memiliki minimal satu anggota keluarga yang berperan sebagai juru pemantau jentik. Selain itu, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus—menguras, menutup, dan mendaur ulang—terus digalakkan secara masif di seluruh wilayah kabupaten.

“Dinas kesehatan juga terus berupaya melakukan edukasi melalui gerakan satu rumah satu jumantik dan pemberantasan sarang nyamuk,” ujar Edis Herdis saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2026).

0 Komentar