Pemkot Banjar Percepat Layanan PAUD, 2,7 Persen Anak Belum Terlayani

Sebanyak 38 anak usia dini tampil memperdengarkan hafalan Al-Qur’an juz 30 di Rumah Tahfidz Ar Rahman. (Istime
Sebanyak 38 anak usia dini tampil memperdengarkan hafalan Al-Qur’an juz 30 di Rumah Tahfidz Ar Rahman. (Istimewa/dok pribadi)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Banjar tengah mempercepat perluasan layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) setelah data menunjukkan masih terdapat sekitar 2,7 persen anak usia 5-6 tahun yang belum memperoleh layanan pendidikan prasekolah. Capaian partisipasi saat ini telah menyentuh angka 98 persen, namun sisa angka tersebut menjadi perhatian serius dalam penyusunan Grand Desain Implementasi Wajib Belajar Satu Tahun Prasekolah.

Pembahasan dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar, Rabu (30/9/2026). Kepala Disdikbud Kota Banjar, Dedi Suardi, menyatakan bahwa capaian 98 persen merupakan modal penting untuk mempercepat perluasan layanan hingga seluruh anak usia sasaran dapat memperoleh pendidikan prasekolah. “Data kita sudah sekitar 98 persen anak usia 5-6 tahun bersekolah di TK, PAUD maupun RA. Tinggal sekitar 2,7 persen yang belum,” kata Dedi.

Menurut Dedi, kelompok anak yang belum terlayani perlu dipetakan lebih lanjut. Penyusunan grand desain tidak hanya berbicara mengenai regulasi, tetapi juga bagaimana pemerintah bersama berbagai pihak dapat menjangkau anak yang belum mengikuti pendidikan prasekolah. FGD tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah dan unsur kewilayahan, termasuk kecamatan, desa dan kelurahan. Keterlibatan lintas sektor dinilai penting karena persoalan akses pendidikan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan satu instansi.

Baca Juga:Lewat Science Day 2026, UIKA Bogor Kenalkan Inovasi Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Berbasis Komunitas Pakar Unpad: Program LUTD PLN UID Jabar Perlu Sesuaikan Karakter Wilayah

“Wajib belajar satu tahun prasekolah ini bukan beban kami saja di Dinas Pendidikan, tetapi semua sektor harus ikut mendorong agar program ini sukses sesuai dengan data yang ada,” ujarnya.

Dedi menambahkan, pemetaan di tingkat kewilayahan menjadi bagian penting dalam upaya menjangkau anak yang belum masuk PAUD. Keberadaan layanan PAUD di lingkungan masyarakat, termasuk yang berada dekat dengan permukiman warga, dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperluas akses. “Bunda PAUD nanti bisa menyampaikan berbagai hal kepada PAUD kecamatan, desa dan kelurahan. Kita juga mendorong tenaga pendidik untuk memetakan wilayahnya,” katanya.

Di sisi lain, Bunda PAUD Kota Banjar, Hj. Hetti Sudarsono, menilai sosialisasi kepada orang tua menjadi faktor penting dalam mendorong anak mengikuti pendidikan prasekolah. Ia menekankan perlunya keterlibatan orang tua dan guru untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya pendidikan anak sebelum memasuki jenjang sekolah dasar. “Perlu sosialisasi dengan orang tua dan guru-guru. Kita harus mengajak serta ikut sekolah pendidikan yang benar-benar sesuai dengan regulasi yang ada,” ujar Hetti.

0 Komentar