Kampung Sosial Cimahi Digagas di Tengah Efisiensi Anggaran, Mampukah Menjawab Persoalan Kemiskinan?

Kampung Sosial Cimahi Digagas di Tengah Efisiensi Anggaran, Mampukah Menjawab Persoalan Kemiskinan?
Ilustrasi arak-arakan Hasil Bumi dalam Festival Cirendeu. (Mong/Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang membatasi ruang gerak sejumlah program daerah, Pemerintah Kota Cimahi menggagas Program Kampung Sosial sebagai upaya menekan angka kemiskinan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Namun, program yang dirancang melalui kolaborasi Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi bersama Dinas Sosial itu kini menghadapi tantangan besar, memastikan konsep yang digagas tidak berhenti sebagai program seremonial, melainkan benar-benar mampu menciptakan perubahan bagi warga penerima manfaat.

Kepala Dispangtan Kota Cimahi, Tita Mariam, mengatakan Program Kampung Sosial lahir dari hasil pemikiran bersama dengan Dinas Sosial sebagai salah satu strategi pengentasan kemiskinan melalui penciptaan peluang kerja.

Baca Juga:Pentas Budaya Sunda hingga Tangis Perpisahan, Momen Haru di TK Mutiara Bunda SukarajaBahlil Sebut Pasokan Batu Bara Aman, Publik Duga Utang Pemerintah ke PLN Jadi Alasan Pemadaman Bergilir

Meski begitu, ia mengakui program tersebut berjalan dalam situasi keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi yang tengah diterapkan.

“Tentu harapannya Program Kampung Sosial ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Kota Cimahi. Didasarkan ketika masyarakat kurang mampu diberikan pekerjaan dan mendapatkan penghasilan, maka kesejahteraannya pun akan meningkat,” ujar Tita kepada Jabar Ekspres via pesan WhatsApp, Senin (22/6/2026).

Persoalannya, Cimahi bukan daerah dengan hamparan lahan pertanian luas. Sebagai kota dengan wilayah terbatas, kemampuan sektor pertanian konvensional untuk menopang ketahanan pangan tentu memiliki batas.

Tita menyebut keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan mutlak. Menurutnya, ketahanan pangan masih dapat diperkuat melalui konsep pertanian perkotaan atau urban farming serta sistem pertanian terintegrasi.

Pemanfaatan lahan pekarangan rumah dan area yang tidak produktif menjadi salah satu strategi yang akan dikembangkan. Berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, kangkung, sawi, hingga selada dapat ditanam oleh masyarakat.

Selain itu, tanaman obat keluarga seperti jahe, kencur, bunga telang, serai, dan kunyit juga menjadi bagian dari konsep tersebut.

“Metode hidroponik, vertikultur, IOT, dapat digunakan dan dikembangkan sehingga penggunaan lahan tidak harus selalu dengan skala besar,” jelasnya.

Baca Juga:Harga BBM Subsidi Bertahan Bantu Jaga Daya Beli Masyarakat, Benarkah?Tersenggol Saat Nyalip, Pemotor Tewas Terlindas Truk di Gunung Putri Bogor

Konsep pertanian terintegrasi juga akan menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Budidaya ayam petelur, ikan lele, hingga ikan nila menjadi bagian dari rencana pengembangan Kampung Sosial.

“Tentu dengan semua hal yang tersebut di atas, maka akan mengurangi pengeluaran kebutuhan keluarga, meningkatkan gizi, dan ketahanan pangan dapat terwujud,” kata Tita.

0 Komentar