JABAR EKSPRES – Narasi bermuatan penghinaan terhadap Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir dan Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila kian ramai diperbincangkan.
Nama yang tercatut pada narasi tersebut, yakni Abuya Cimanggung, Ustadz Ade Nurjaman, telah membuat video klarifikasi bahwa dirinya mengaku tidak membuat poster hinaan terhadap Bupati dan Wabup Sumedang.
Video klarifikasi yang berisikan Ade Nurjaman berbicara setelah sebelumnya dikunjungi para tokoh agama di Cimanggung. Di dalam video tersebut, tampak di antaranya Ustad Jajat (Uje) yang merupakan Ketua DKM Masjid Besar Cimanggung dan Ketua MUI Cimanggung, KH. Odang Jamaludin.
Baca Juga:Lewat Science Day 2026, UIKA Bogor Kenalkan Inovasi Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Berbasis Komunitas Pakar Unpad: Program LUTD PLN UID Jabar Perlu Sesuaikan Karakter Wilayah
“Demi Allah saya tidak membuat ini,” kata Ade Nurjaman dalam video.
Abuya Cimanggung atau Ade Nurjaman, yang diduga menghina Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir dan Wabup Sumedang Fajar Aldila, mengelak telah membuat poster hinaan. Dia bahkan bersumpah atas nama Allah SWT.
Sebelumnya, informasi yang diterima Jabar Ekspres, narasi bermuatan unsur penghinaan kepada kepala daerah itu ramai diperbincangkan, usai beredarnya gambar berisikan tulisan dan foto seorang pria berpakaian ustadz.
Pada gambar yang beredar, di bagian bawah setelah narasi bermuatan unsur penghinaan itu tertulis nama dengan klaim Abuya Cimanggung Ustadz Ade Nurjaman.
Rangkaian kalimat yang beredar tersebut, Bupati dan Wabup disebut kini telah memiliki gelar baru. Sederet gelar hinaan ditujukan kepada kepala daerah Sumedang serta wakilnya.
Tak hanya bermuatan penghinaan, kalimat-kalimat pada tulisan yang beredar juga mengandung kata-kata “laknat” atau kutukan kepada keduanya.
Pada narasi tersebut juga mengandung seruan untuk membuat suasana di Kabupaten Sumedang agar chaos seperti di Nepal.
Baca Juga:Perkuat Inovasi Transisi Energi, PGN Raih Platinum Award InTechSEA 2026Bukan Sekadar Penghargaan, Inovasi Satlantas Polres Tasikmalaya Berbuah Apresiasi Polda hingga Polri
Kata “di-Nepalkan” tertulis jelas di dalam gambar dengan maksud Bupati dan Wabup Sumedang mesti dikejar oleh massa, diburu seperti para pemimpin di negara Nepal.
Menanggapi berderarnya gambar tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cimanggung, KH. Odang Jamaludin mengatakan bahwa perkataan itu sudah masuk pencemaran nama baik.
Ini kan Bapak Bupati tidak ada kesalahan sama sekali, tapi beliau itu menyangkut-nyangkut Bupati, mencemarkan,” katanya saat ditemui Jabar Ekspres pada Selasa (29/9/2026) petang.
