Fenomena Kampung Tampak Bersalju di Cipatat, Begini Kata DLH KBB!

Fenomena Kampung Tampak Bersalju di Cipatat, Begini Kata DLH KBB!
Jalan Raya Padalarang-Cianjur di Kampung Pamuncatan, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat tampak memutih seperti tertutup salju. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat bergerak cepat menindaklanjuti viralnya video yang memperlihatkan permukiman warga di Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, tampak memutih seperti tertutup salju.

Pemerintah daerah memastikan akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan.

Petugas Pengawas Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH) DLH KBB, Adhi Setyowibowo, mengatakan pihaknya akan memverifikasi kebenaran informasi yang beredar serta mencocokkannya dengan kondisi faktual di lapangan.

Baca Juga:Diduga Akibat Bakar Sampah, Tungku Pengolahan Kapur di Stone Garden Ludes TerbakarJejak Putih Debu Kapur dan Cinta yang Tak Pernah Pudar dalam Ruang Kelas

“Kami akan tindak lanjuti dengan turun ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya. Data yang ada akan kami cocokkan dengan situasi di lapangan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (22/6/2026).

Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada laporan resmi dari masyarakat terkait dugaan pencemaran udara di kawasan tersebut. Namun karena sudah menjadi perhatian publik, DLH KBB tetap akan melakukan peninjauan langsung.

“Memang belum ada laporan resmi yang masuk. Tapi karena ini sudah menjadi perhatian, kami akan melakukan pengecekan langsung dan berkoordinasi dengan pihak terkait,” kata Adhi.

Sementara itu, masyarakat sekitar mengaku kondisi serupa sudah berlangsung cukup lama. Mereka menilai debu putih yang menyelimuti lingkungan diduga berasal dari aktivitas penggilingan dan pengolahan batu kapur di sekitar permukiman.

Hidayat (42), warga setempat, mengatakan paparan debu tersebut semakin terasa saat musim kemarau karena mudah terbawa angin ke area permukiman.

“Kalau kemarau seperti sekarang, debu dari penggilingan lebih mudah terbawa angin dan masuk ke rumah warga,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, anggota keluarganya sempat mengalami gangguan kesehatan pernapasan yang diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan.

Baca Juga:Antara Harapan dan Masa Depan, Luka di Balik Bukit Kapur Karst CitatahTambang Jabar Kian Brutal, Citatah Jadi Korban Utama

“Anak saya dulu sering ISPA dan sesak napas. Setelah pindah ke pesantren, keluhannya jauh berkurang,” katanya.

Hidayat berharap ada pengaturan yang lebih tegas terhadap aktivitas industri di sekitar permukiman agar dampak lingkungan bisa diminimalkan tanpa harus menghentikan kegiatan ekonomi masyarakat.

“Harapan saya bukan ditutup, tapi ditata lagi. Supaya dampaknya ke warga bisa dikurangi, mungkin dengan pengaturan zonasi atau pengawasan yang lebih ketat,” katanya. (Wit)

0 Komentar