Hilirisasi Mengubah Wajah Ekonomi Indonesia

Biji Nikel
Hiirisasi mineral juga bukan hanya soal nikel, tembaga, timah, atau bauksit. Tapi yang sedang dipertaruhkan adalah apakah kekayaan alam yang tersimpan di dalam perut bumi benar-benar mampu mengubah kualitas hidup manusia yang tinggal di atasnya.
0 Komentar

HILIRISASI bukan sekadar tentang mengolah mineral menjadi produk bernilai tambah, melainkan tentang mengubah kekayaan yang tersimpan di dalam perut bumi menjadi kesempatan yang dapat mengubah kehidupan jutaan manusia.

Hiirisasi mineral juga bukan hanya soal nikel, tembaga, timah, atau bauksit. Tapi yang sedang dipertaruhkan adalah apakah kekayaan alam yang tersimpan di dalam perut bumi benar-benar mampu mengubah kualitas hidup manusia yang tinggal di atasnya.

Selama bertahun-tahun, Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya sumber daya alam. Namun, kekayaan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Baca Juga:Menjadikan Indonesia Brankas Emas Dunia31.548 Sertifikat Halal untuk Desa Wisata

Terlalu lama negeri ini menjual bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Akibatnya, Indonesia sering menjadi penonton dalam rantai industri yang seharusnya dapat dibangun dari kekuatan yang dimilikinya sendiri.

Kini, cara pandang itu perlahan sedang diubah. Hilirisasi diupayakan menghadirkan sebuah gagasan yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar yakni agar jangan hanya menjual apa yang diambil dari bumi, melainkan membangun kehidupan baru melalui proses mengolahnya.

Nilai sebuah mineral tidak lagi berhenti ketika keluar dari tambang, tetapi terus bertambah ketika menjadi bahan baku industri, membuka lapangan pekerjaan, melahirkan keahlian baru, dan menghidupkan perekonomian daerah.

Data investasi pada triwulan pertama 2026 memberikan gambaran perubahan tersebut. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp147,5 triliun atau sekitar 29,6 persen dari total investasi nasional sebesar Rp498,8 triliun.

Angka ini menunjukkan hampir sepertiga investasi nasional kini diarahkan pada sektor yang menghasilkan nilai tambah, bukan lagi sekadar mengambil hasil bumi untuk dikirim ke pasar dunia.

Di dalam angka tersebut, sektor mineral memegang peranan yang sangat dominan. Nilai investasinya mencapai Rp98,3 triliun atau sekitar 67 persen dari total investasi hilirisasi nasional.

Besarnya angka itu menunjukkan kekuatan utama Indonesia di mata investor masih bertumpu pada komoditas mineral yang selama ini menjadi keunggulan negeri ini.

Baca Juga:ETLE Gunakan Biometrik WajahBRI Hormati Aspirasi, Proses Penyelesaian Kredit dan Lelang Agunan Telah Dilaksanakan Sesuai Ketentuan

Nikel menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp41,5 triliun atau sekitar 42 persen. Di belakangnya menyusul tembaga sebesar Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, bauksit Rp13,7 triliun, dan timah Rp2,5 triliun.

0 Komentar