Selebihnya berasal dari berbagai komoditas lain seperti emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, pasir silika, hingga logam tanah jarang.
Keberhasilan Hilirisasi
Dunia sedang bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan semakin bergantung pada teknologi. Kendaraan listrik, pusat data, jaringan listrik pintar, hingga berbagai perangkat digital membutuhkan mineral dalam jumlah besar.
Apa yang selama ini tersimpan di dalam tanah Indonesia ternyata menjadi bagian penting dari perubahan global itu.
Baca Juga:Menjadikan Indonesia Brankas Emas Dunia31.548 Sertifikat Halal untuk Desa Wisata
Namun, kesempatan tersebut hanya akan benar-benar bermakna apabila Indonesia tidak berhenti sebagai penyedia bahan baku. Nilai terbesar justru lahir ketika mineral tersebut diolah menjadi produk yang memiliki daya saing lebih tinggi. Maka hilirisasi menemukan makna sejatinya.
Komoditas yang menjadi bagian dari portofolio Grup MIND ID mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam proses tersebut. ANTAM berada pada rantai nilai nikel dan bauksit, PT Freeport Indonesia mengelola tembaga, sementara PT Timah menjadi bagian penting dari industri timah nasional.
Peran mereka menunjukkan bahwa berbagai aset strategis nasional memiliki posisi penting dalam menarik investasi sekaligus membangun industri pengolahan di dalam negeri. Namun, keberhasilan hilirisasi tidak boleh berhenti pada besarnya angka investasi atau bertambahnya kapasitas industri.
Keberhasilannya harus diukur dari perubahan yang dirasakan masyarakat. Ketika sebuah kawasan industri berdiri, masyarakat berharap bukan hanya melihat bangunan-bangunan baru, melainkan juga kesempatan kerja yang lebih luas, pendidikan yang semakin baik, tumbuhnya usaha kecil, serta kehidupan yang lebih sejahtera bagi generasi berikutnya.
Harapan itu mulai terlihat dari perubahan arah investasi nasional. Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen investasi hilirisasi kini berada di luar Pulau Jawa.
Fakta ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pemerataan angka investasi. Selama bertahun-tahun, pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu. Kini, daerah-daerah penghasil mineral mulai menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.
Sulawesi Tengah menjadi salah satu contohnya. Pada triwulan pertama 2026, provinsi ini mencatat investasi sebesar Rp32,1 triliun atau sekitar 6,4 persen dari total investasi nasional sehingga menjadi tujuan investasi terbesar kelima di Indonesia.
