Penjaga Kebersihan Stadion di Balik Gemerlap Piala Presiden

LARUT : Petugas kebersihan bekerja setelah pertandingan Piala Presiden di Stadion Si Jalak Harupat, Jumat (31/
LARUT : Petugas kebersihan bekerja setelah pertandingan Piala Presiden di Stadion Si Jalak Harupat, Jumat (31/7) usai. (Hendrik/JE)
0 Komentar

Peluit panjang babak kedua berbunyi. Itu bukan akhir, tapi justru pertanda bagi Dikdik dan Farel untuk memulai pekerjaannya. Mereka adalah dua dari sejumlah petugas kebersihan di Piala Presiden 2026.

Hendrik Muchlison, Jabar Ekspres, Kabupaten Bandung

Malam itu Jumat (31/7) angin malam turun dari pegunungan Bandung dan menusuk tribun Stadion Si Jalak Harupat. Gemuruh Bobotoh perlahan mereda setelah peluit panjang babak kedua berbunyi. Di antara bangku-bangku tribun yang mulai kosong, dua remaja justru berdiri sambil menggenggam sapu dan serok.

Persib Bandung menang tipis 1-0 lewat gol Balsa Sekulic. Ketika 21.438 Bobotoh larut dalam euforia kemenangan, pekerjaan Dikdik dan Farel justru baru dimulai.

Baca Juga:Tiramisusu GO! Buka Gerai 24 Jam di Rest Area KM 97B, Mudahkan Wisatawan Berburu Oleh-olehUsai Tinggalkan Rumah, Ghilmi Akhirnya Pulang dan Ungkap Alasan Sebenarnya

Dua bocah SMA itu bagian dari 100 petugas kebersihan yang sengaja dikontrak dalam event Piala Presiden 2026 kali ini. Mereka direkrut dari 5 desa yang mengelilingi Stadion Si Jalak Harupat. Masing-masing desa dapat jatah 20 orang.

Mereka yang bergabung berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang memang sedang nganggur, hingga pelajar yang perlu menambah uang jajan seperti Dikdik dan Farel.

Bagi Dikdik dan Farel, pekerjaan itu bukan hanya soal mengisi waktu luang. Tapi kesempatan emas untuk bisa menyaksikan pertandingan tim kebanggaan secara gratis sekaligus menambah uang saku. “Lumayan nonton gratis juga. Malah ini dapat tambah uang jajan,” cetus Farel.

Farel menceritkan, ia sudah mengagumi Persib Bandung sejak SD. Karenanya ia tak mau melewatkan satupun pertandingan Tim Pangeran Biru itu. Apalagi ketika Persib bermain di Stadion Si Jalak Harupat. Biasanya ia akan menyisihkan uang saku untuk bisa beli tiket. Apesnya jika tak bisa beli tiket, ia akan ikut euforia di pinggir jalan mengiringi para Bobotoh yang perjalanan datang dan pulang Stadion. Karena rumahnya memang dekat dengan stadion itu.

Karena itulah, ia justru kegirangan menjalankan tugasnya walaupun harus pulang tengah malam. Biasanya ia harus beli tiket, kali ini malah dibayar untuk berada di stadion. “Capek sih, tapi hilang karena Persib menang,” candanya.

Misalnya pada Jumat (31/7) itu. Laga baru tuntas sekitar 21.20. Ribuan penonton pun bergerak meninggalkan tribun. Tapi tidak dengan Farel dan Dikdik. Warga Desa Kopo dan Jatisari itu justru mulai pemanasan dengan sedikit meregangkan otot tangan dan punggung.

0 Komentar