Produksi Padi Terancam, Puluhan Hektare Sawah di Cipatat Kehilangan Pasokan Air

Kerusakan jaringan irigasi membuat puluhan hektare lahan pertanian kehilangan sumber pengairan dan tidak produ
Kerusakan jaringan irigasi membuat puluhan hektare lahan pertanian kehilangan sumber pengairan dan tidak produktif. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Puluhan hektare sawah di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tidak lagi mampu menghasilkan padi secara maksimal akibat rusaknya jaringan irigasi.

Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah yang bergantung pada pasokan air dari Daerah Irigasi (D.I) Rajamandala. Kerusakan berupa sedimentasi saluran, kebocoran, pintu air yang tidak berfungsi, hingga bahu saluran yang jebol menyebabkan distribusi air ke areal persawahan terus menurun.

Mitra Cai Cikalapa, Desa Rajamandala Kulon, Unang mengatakan, dampak kerusakan jaringan irigasi membuat luas lahan yang masih dapat ditanami padi terus menyusut. Dari sekitar 30 hektare sawah yang ada di wilayahnya, hanya separuh yang masih memperoleh pasokan air memadai.

Baca Juga:Cegah Pelajar Ikut Demo BEM UI, Forkopimcam Cariu Perketat Pengawasan di Jalur Menuju JakartaPertamina Luncurkan Kapal Pintar Berbasis AI, Siap Bersihkan Sampah Laut Secara Otomatis

“Sekitar 15 hektare masih bisa ditanami padi, sedangkan 15 hektare sisanya sebagian ditanami palawija dan sebagian lagi terlantar karena kekurangan air,” kata Unang saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Menurut dia, persoalan tersebut bukan masalah baru. Penurunan debit air akibat rusaknya jaringan irigasi telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin dirasakan petani dalam beberapa musim tanam terakhir.

“Akibat keterbatasan air, produktivitas pertanian padi terus menurun. Sejumlah petani memilih beralih ke tanaman palawija yang membutuhkan air lebih sedikit, sementara sebagian lahan lainnya tidak lagi digarap,” ujarnya.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Cinangka, Desa Rajamandala Kulon. Mitra Cai Cinangka, Kastari, menyebut dari total sekitar 25 hektare lahan sawah yang ada, hanya sekitar 10 hektare yang masih mendapatkan aliran air irigasi.

“Sudah lebih dari tiga tahun kondisinya seperti ini. Sisanya terpaksa ditanami palawija atau ditumbuhi semak belukar karena tidak mendapat pasokan air yang cukup,” ungkap Kastari.

Tidak hanya di Rajamandala Kulon, krisis irigasi juga dirasakan petani di Kampung Ciruman, Desa Mandalasari. Keterbatasan air membuat sebagian besar sawah tidak lagi produktif untuk budidaya padi.

Sekretaris Kelompok Tani setempat, Jajang, mengatakan dari total 12 hektare sawah yang ada di wilayah tersebut, hanya sekitar 2 hektare yang masih layak ditanami padi.

Baca Juga:Tukang Pijat Jadi Korban Begal di Rancabungur, Ditendang hingga Tersungkur, Motor Pinjaman RaibSudah Beraksi 10 Kali, Komplotan Curanmor Asal Cipatujah Dibekuk Polisi!

Menurutnya, persoalan serupa juga terjadi di Kampung Bungur serta sejumlah wilayah di Desa Mandalawangi, seperti Cijengkol, Cisaladah, Kiara Komplek, dan Tagog.

0 Komentar