“Program seperti Gaslah pada dasarnya memiliki tujuan yang baik. Namun tanpa pengawasan yang konsisten, dukungan sarana yang memadai, serta indikator keberhasilan yang terukur, program tersebut berpotensi hanya menjadi slogan. Yang dibutuhkan sekarang adalah perubahan sistem dan perilaku, bukan sekadar menambah program baru,” tegasnya.
Ia menambahkan, persoalan sampah di Kota Bandung saat ini sudah tidak bisa lagi ditangani dengan pendekatan jangka pendek. Pemerintah perlu memastikan setiap program yang dijalankan memiliki dampak nyata terhadap penurunan volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
“Publik tentu berharap status darurat sampah ini bukan sekadar respons sesaat terhadap kondisi pasca-libur panjang, tetapi menjadi pintu masuk untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan,” pungkasnya. (Dam)
