Limbah Kotoran Ternak di Jabar Masih Jadi PR, Baru 37 Persen yang Terolah

Ilustrasi ternak di Jawa Barat (son)
Ilustrasi ternak di Jawa Barat (son)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat terus berupaya menekan pembuangan limbah kotoran hewan ke sungai melalui edukasi dan program pengolahan limbah ternak.

Langkah tersebut dilakukan seiring tingginya populasi sapi di Jawa Barat yang menjadi potensi besar sektor peternakan, namun di sisi lain juga memunculkan persoalan limbah yang belum sepenuhnya tertangani.

Plt Sekretaris Dinas DKPP Jawa Barat, Siti Rochani, mengatakan persoalan limbah kotoran hewan merupakan masalah lama yang hingga kini masih menjadi perhatian pemerintah daerah.

Baca Juga:Libur Iduladha, Jalur Puncak Bogor Mulai Dipenuhi Kendaraan WisatawanPolres Tasikmalaya Salurkan 27 Hewan Kurban untuk Warga dan Pesantren di Iduladha 1447 H

Menurutnya, populasi sapi di Jawa Barat tergolong tinggi. Bahkan setelah wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), jumlah populasi sapi di Jawa Barat sempat mencapai lebih dari 109 ribu ekor, dengan konsentrasi besar berada di Kabupaten Bandung Barat.

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2024, populasi sapi ternak di Jawa Barat mencapai 407.901 ekor. Jumlah itu terdiri dari 98.149 sapi perah dan 309.752 sapi potong.

Populasi sapi perah terbanyak berada di Kabupaten Bandung Barat sebanyak 26.469 ekor, disusul Kabupaten Bandung 25.449 ekor, dan Kabupaten Garut 11.112 ekor.

Sedangkan populasi sapi potong tertinggi tercatat di Kabupaten Garut dengan 30.689 ekor, diikuti Kabupaten Kuningan 28.865 ekor, dan Kabupaten Sumedang 27.673 ekor.

Menurut Hani, tingginya populasi ternak otomatis berdampak pada besarnya volume limbah kotoran hewan yang dihasilkan setiap hari.

“Kebayang misal 1 kg saja tiap satu sapi sehari mengeluarkan kotorannya, sudah berapa banyak,” katanya,

Ia menjelaskan, sejak 2022 DKPP Jawa Barat mulai mendorong pengolahan limbah ternak menjadi produk yang lebih bermanfaat, seperti kompos, briket, hingga biogas.

Baca Juga:Hari Pertama Long Weekend Iduladha, 24 Ribu Kendaraan Padati Jalur Puncak BogorViral Video Pemeriksaan Saksi di Rumah, Polres Bogor Tegaskan Tak Ada Pemaksaan

“2025 sampai dengan triwulan 1 tahun 2026 sudah ada peningkatan. Jadi sudah ada yang dijadikan sebagai kompos, sudah ada dijadikan briket, biogas,” kata dia.

Namun demikian, pengelolaan limbah ternak di Jawa Barat dinilai masih belum optimal. DKPP mencatat sekitar 67 persen limbah kotoran hewan masih belum terkelola dengan baik.

Artinya, baru sekitar 37 persen limbah ternak yang telah berhasil diolah, sementara sisanya masih dalam proses penanganan. (son)

0 Komentar