JABAR EKSPRES – Seorang penjaga sekolah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) ditemukan meninggal dunia di area sekolah tempatnya bekerja pada Senin (25/5/2026) sore.
Korban bernama Mamat Sudarmat (49), penjaga SD Negeri Pameungpeuk, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua. Ia diduga mengalami kecelakaan saat memperbaiki bagian atap bangunan sekolah yang mengalami kebocoran.
Kasi Humas Polres Cimahi, Gofur Supangkat membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di area selasar sekolah sekitar pukul 14.30 WIB.
Baca Juga:Polisi Telusuri Kemunculan Pocong Misterius yang Viral di Bandung BaratJeje Siap Evaluasi Pembangunan Wisata Outdoor di Bandung Barat
“Betul, korban diduga sedang melakukan perbaikan di bagian genting bangunan lantai dua sekolah,” ujar Gofur saat dikonfirmasi, Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan, jasad korban pertama kali ditemukan oleh seorang pengantar galon yang datang ke sekolah untuk mengirim pesanan. Saat melintas di area selasar, saksi melihat korban sudah tergeletak dalam kondisi tidak bergerak.
“Setelah menerima laporan, petugas langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan dan olah TKP. Korban ditemukan dalam kondisi sudah tergeletak di area selasar sekolah,” katanya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara serta rekaman CCTV sekolah, korban diduga kehilangan keseimbangan saat berada di atas tembok pembatas lantai dua bangunan sekolah.
“Korban diduga sedang memperbaiki bagian atap sekolah yang bocor. Saat berada di atas pembatas lantai dua, korban diduga terpeleset lalu terjatuh,” ucapnya.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka serius di bagian kepala dan wajah akibat benturan keras. Polisi menemukan luka sobek di area pelipis mata kanan dekat telinga kanan, serta patah tulang hidung.
Petugas kepolisian bersama Tim Inafis Satreskrim Polres Cimahi kemudian mengevakuasi korban dan memeriksa sejumlah saksi untuk memastikan kronologi kejadian.
Baca Juga:OJK Warning Modus Baru, Jasa Pelunasan Pinjol Minta Biaya di AwalPGN Garap Studi Ekosistem CCS dan Transportasi CO₂, Dukung Pengembangan Amonia Rendah Karbon
Peristiwa itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga maupun lingkungan sekolah. Selama ini, korban dikenal sebagai sosok penjaga sekolah yang rutin menjaga dan merawat lingkungan sekolah.
“Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Penolakan itu dituangkan dalam surat pernyataan resmi keluarga,” pungkas Gofur. (Wit)
