JABAR EKSPRES – Pemerintah mengaku tengah mempersiapkan aturan tambahan dalam proses impor minyak mentah dari Rusia. Itu disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman di sela IPA Convex di Tangerang, Banten, Rabu (20/5) malam.
Tidak hanya aturan tambahan, Laode juga menuturkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) perlu menyiapkan skema impor minyak mentah dari Rusia tersebut.
Menurutnya, aturan tambahan dan skema impor minyak tersebut diperlukan, mengingat minyak dari Rusia tersebut membutuhkan perlakuan khusus, tidak seperti impor dari negara lain.
Baca Juga:Danantara Bentuk BUMN Baru Khusus Ekspor?Temuan Ulat dalam Menu MBG di Bojonggambir-Tasikmalaya, Potret Standar Dapur Masih Bermasalah
Untuk itu, Pertamina, selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang migas, berbisnis menggunakan obligasi global atau global bond, harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar obligasi global.
Kondisi tersebut, di mana Pertamina berkomitmen terhadap obligasi global, menyebabkan Kementerian ESDM harus mencari skema ideal dalam proses impor minyak mentah Rusia.
“Pertamina dalam berbisnis menggunakan global bond. Itu harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar global bond-nya dia. Makanya, skemanya sedang diproses, ya,” ujarnya, dikutip Kamis (21/5/2026).
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan sedang menyiapkan regulasi atau payung hukum untuk mengatur soal rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia, Jumat (24/4).
Terdapat dua opsi yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.
Opsi pertama adalah mengimpornya langsung dari badan usaha milik negara (BUMN), kemudian opsi kedua adalah mengimpor melalui badan layanan umum (BLU).
Apabila menggunakan opsi pertama, Yuliot mengatakan terdapat konsekuensi tersendiri jika BUMN yang melakukan impor dari Rusia.
Baca Juga:Anggaran MBG 2026 Dipangkas jadi Rp268 Triliun?Menkeu Optimis Rupiah Menguat, Sebut Ini Alasannya!
Oleh karena itu, opsi lainnya yang sedang dipertimbangkan adalah mengimpor melalui BLU. Ia berharap terdapat kemudahan, termasuk pembiayaan, apabila mengimpor melalui BLU.
Langkah tersebut menjadi bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026, yang merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
