Bukan hanya menambah armada dan perbaiki kenyamanan kendaraan umum saja, tapi juga akses jalan yang lebih rata hingga pemberdayaan angkutan yang sudah ada.
“Beda dengan jalan tol yang posisinya lebih terbuka dan terpusat, kalau jalan-jalan di pemukiman mau bagaimana menghitungnya?,” jelas Djoko.
“Apa mau pasamg alat? Berapa titik dipasang per berapa meter? Apa bulak-balik akan kena tarif? Cuman keluar rumah maju 200 meter gimana, apa bayar juga? Tidak semudah itu, akan sulit diterapkan,” lanjutnya.
Baca Juga:60 Ribu Ekor Ayam Mati Terpanggang dalam Kebakaran Peternakan di Cariu BogorBangunan Langgar Garis Sempadan Jalan, Bupati Tasikmalaya: Bongkar Sendiri atau Kita Garuk Pakai Alat Berat!
Djoko menyampaikan, ide KDM dengan usulan jalan berbayar masih belum jelas perhitungan parameternya seperti apa, sehingga jika memang tetap ingin diterapkan maka pengkajiannya membutuhkan waktu sangat panjang.
Dia menilai, daripada merencanakan hal yang belum jelas penerapannya, maka akan lebih ideal dan bermanfaat jika memaksimalkan potensi yang sudah ada.
“Sulit. Lebih baik memberdayakan angkutan yang sudah ada. Angkutan desanya dibagusin, jalan-jalan menuju ke desa diperbaiki, itu akan lebih terasa bermanfaat,” pungkas Djoko. (Bas)
