Menurut Beni, peran masyarakat menjadi salah satu kunci penting agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
“Sosialisasi dan edukasi terus kami lakukan. Kuncinya memang ada pada kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat. Ketika sampah sudah dipilah dari rumah, proses pengolahannya akan jauh lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien, baik untuk petugas maupun mesin pengolah sampah,” terangnya.
Ia menambahkan, keberadaan mesin dan fasilitas TPST tetap memerlukan dukungan dari pola pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Sebab, sampah yang tercampur akan memperlambat proses pengolahan dan mengurangi efektivitas kapasitas mesin.
Baca Juga:Proyek Sampah Cimahi Dikejar Deadline, World Bank Ingatkan Risiko Bantuan DicabutAmbisi Zero TPA Cimahi! Kapasitas Naik, Tapi Masalah Sampah Masih Menggunung
“Walaupun nanti fasilitas dan mesin di TPST semakin baik, pemilahan dan pengurangan sampah dari sumber tetap sangat penting. Kalau sampah sudah terpilah, target pengolahan bisa lebih optimal karena mesin juga bekerja lebih efektif,” tambahnya.
Selain persoalan pemilahan sampah, DLH Cimahi juga masih menghadapi tantangan dalam proses pengadaan mesin baru untuk TPST Santiong. Proyek tersebut melibatkan sejumlah kementerian serta dukungan pendanaan melalui program pengelolaan sampah nasional yang didukung Bank Dunia.
“Untuk TPST Santiong, harapannya proses pengadaan mesin baru bisa segera terealisasi agar operasionalnya sesuai target yang diharapkan,” kata Beni.
TPST Santiong sendiri ditargetkan mampu mengolah sekitar 85,7 ton sampah per hari untuk melayani lima kelurahan di Kota Cimahi. Namun proses optimalisasi tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kewenangan pemerintah daerah karena melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian PU, Kementerian Lingkungan Hidup, Kemendagri, Bappenas, hingga program ISWMP yang didukung pendanaan Bank Dunia.
Ke depan, menurut Beni, pengelolaan sampah tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga perlu memiliki nilai ekonomi agar sistem pengolahan dapat berjalan lebih berkelanjutan.
“Harapannya, sampah ini tidak hanya selesai diolah begitu saja, tetapi juga punya nilai manfaat dan nilai ekonomi. Memang mungkin tidak menutupi seluruh biaya operasional, tapi setidaknya sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai,” tuturnya.
Ia mencontohkan, aktivitas pemulung dan rantai daur ulang yang selama ini berjalan menunjukkan bahwa sampah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
