JABAR EKSPRES – Optimalisasi pengolahan sampah di Kota Cimahi masih menghadapi tantangan serius. Kapasitas yang diharapkan mampu mencapai 85 ton per hari belum terealisasi lantaran performa mesin dinilai belum bekerja maksimal sesuai target dan ekspektasi Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi.
Meski digadang-gadang mampu mengolah hingga 50 ton sampah per hari, kapasitas mesin pengolahan tersebut hingga kini belum optimal. Realisasinya, fasilitas itu baru mampu memilah dan mengolah sekitar 10 ton sampah per hari akibat kendala teknis dan operasional.
Kabid PSLB3PK DLH Kota Cimahi, Beni Gunadi, mengatakan fasilitas penunjang operasional sampah tak cukup diperkuat, karena bangunannya juga perlu diperbaiki. Ia menegaskan, saat beban bergerak dan menimbulkan getaran, maka harus ada siasat teknis agar struktur tetap aman pada bangunan itu.
Baca Juga:Krisis Sarimukti Memanas, Warga Ancam Blokade Truk Sampah Bandung Raya ke Bandung BaratTarget 50 Ton Meleset Jauh, TPST Santiong Baru Mampu Olah 10 Ton Sampah
“Entah itu di eh pondasinya harus dikasih membran supaya nahan getaran, entah itu di lantainya harus dikasih membran atau kerikil supaya nahan getaran. Sama halnya seperti kereta api,” kata Beni pada Jabar Ekspres, Selasa (19/5/26).
Beni mengungkapkan realisasi pengadaan mesin baru masih mengalami keterlambatan. Padahal, proses lelang yang melibatkan pendanaan dari World Bank bersama Kementerian dan Balai terkait seharusnya sudah berjalan saat ini, namun hingga kini tahapan tersebut belum juga rampung.
“Telatnya itu, kita enggak begitu paham karena internal mereka. Tapi setidaknya kita sekarang akan dilibatkan day per day, hari per hari, gimana caranya program ini bisa cepat selesai karena World Bank juga sudah mewanti-wanti, ‘Ini takut enggak kekejar’,” tutur dia.
Beni menargetkan proyek tersebut dapat rampung pada akhir tahun ini. Ia memperkirakan proses penyelesaian bakal dikebut dalam beberapa bulan ke depan, dengan target operasional atau penyelesaian fisik diproyeksikan sekitar November hingga Desember 2026.
“Kalau enggak kekejar, World Bank enggak akan mengeluarkan bantuan,” ungkap Beni.
Beni menegaskan, jika target belum terealisasi pada akhir 2026, pihaknya akan terus mengejar penyelesaiannya karena hal itu merupakan komitmen.
Menurut dia, prinsipnya sederhana, ketika ada pihak yang ingin memberikan, mereka siap menerima, memproses, dan menindaklanjutinya secepat mungkin sesuai kebutuhan masing-masing.
