BRT Bandung Dinilai Sulit Diminati Jika Tak Punya Kepastian Waktu Tempuh

Warga berjalan di samping proyek Bandung Rapid Transit (BRT) di Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung. Foto
Warga berjalan di samping proyek Bandung Rapid Transit (BRT) di Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Rencana pengembangan layanan Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Cekungan Bandung sebagai bagian dari Mass Transit Project (MASTRAN) dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk menarik minat masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.

Pengamat transportasi UPI, Wiku Tama, menilai keberhasilan BRT tidak semata ditentukan oleh jumlah armada maupun integrasi antarmoda, melainkan oleh kemampuan layanan memberikan kepastian waktu keberangkatan dan kedatangan.

Menurutnya, masyarakat akan memilih transportasi umum apabila memiliki jadwal yang pasti sehingga perjalanan dapat diprediksi. Tanpa kepastian tersebut, BRT dikhawatirkan tidak memiliki nilai lebih dibandingkan moda transportasi lain yang saat ini telah beroperasi di Bandung.

Baca Juga:Menhan Sjafrie di Yonif TP 939/Macan Putih: Prajurit TNI Harus Dekat dengan Rakyat dan Siap Jaga NKRIPemkab Tasikmalaya Genjot Program Bedah Rumah, Target 1.740 Unit Rampung pada 2026

“Yang paling penting dari sistem BRT adalah reliability atau keandalan layanan. Masyarakat harus tahu bus berangkat jam berapa dan tiba jam berapa. Kalau waktu tempuh maupun jadwalnya masih tidak pasti karena terpengaruh kondisi lalu lintas, maka sulit menjadikan BRT sebagai pilihan utama,” ujar Wiku saat dikonfirmasi, Rabu (29/7).

Ia menjelaskan, ketepatan waktu merupakan faktor utama yang dipertimbangkan masyarakat, terutama pekerja dan pelajar yang memiliki jadwal aktivitas tetap setiap hari.

Apabila kepastian waktu tersebut tidak dapat dipenuhi, Wiku menilai kehadiran BRT justru berpotensi hanya menambah jumlah kendaraan besar yang beroperasi di ruas jalan Kota Bandung tanpa memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan kemacetan.

“Kalau busnya tetap terjebak kemacetan dan tidak bisa menjamin kapan tiba di tujuan, maka masyarakat tetap akan menggunakan kendaraan pribadi. Pada akhirnya, yang terjadi hanya penambahan armada di jalan, sementara volume kendaraan secara keseluruhan tidak berkurang sehingga kemacetan tetap terjadi,” katanya.

Wiku mengatakan tujuan utama transportasi massal bukan sekadar menyediakan moda baru, tetapi mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum. Untuk mencapai hal tersebut, layanan harus memberikan keunggulan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan sistem operasional BRT mampu menjaga ketepatan jadwal, mulai dari waktu keberangkatan hingga kedatangan di setiap halte. Dengan begitu, masyarakat memiliki kepastian dalam merencanakan perjalanan sehari-hari.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mengembangkan layanan BRT di kawasan Cekungan Bandung sebagai bagian dari MASTRAN. Program tersebut ditujukan untuk menghadirkan sistem transportasi publik yang modern, efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan.

0 Komentar