Ia bersyukur, sejauh ini para siswa mampu menerima setiap masukan tanpa menunjukkan sikap penolakan berlebihan. Bahkan ketika teguran diberikan dengan nada tegas, anak-anak memahami bahwa hal tersebut dilakukan demi kebaikan mereka.
“Alhamdulillah, anak-anak bisa menerima masukan kami tanpa marah. Mereka percaya kalau semua yang kami sampaikan, termasuk saat kami menegur, itu untuk kebaikan mereka juga,” ujar Annisa. Baginya pendekatan humanis itu dinilai penting untuk membangun kedekatan emosional dengan siswa.
Dinamika persiapan pergelaran di sekolah rupanya tak selalu berjalan mulus. Di balik latihan yang tampak kompak, tersimpan sejumlah persoalan yang sempat memicu gesekan antarsiswa. Komunikasi yang kurang tegas disebut menjadi salah satu penyebab munculnya konflik selama proses berlangsung.
Baca Juga:Pengantin Pria di Garut Diciduk Polisi Usai Akad, Diduga Pelaku Curanmor di IbunBLF MC Resmi Go Digital, Komunitas Moge Ini Siap Naik Kelas Secara Profesional
Bahkan, sempat beredar isu mengenai bocornya naskah perangkatan di beberapa kelas yang membuat suasana latihan memanas.
Di balik semangat latihan yang terus digelorakan, tersimpan kegelisahan yang sempat dirasakan sejumlah siswa. Annisa mengungkapkan, pembagian porsi latihan sebelumnya dinilai belum sepenuhnya adil sehingga memunculkan rasa kecewa di beberapa kalangan. Situasi tersebut sempat memengaruhi suasana latihan dan kekompakan tim.
Namun perlahan, kondisi mulai membaik setelah dilakukan penyesuaian agar seluruh siswa mendapat kesempatan yang lebih seimbang.
“Meski demikian, situasi perlahan mulai dibenahi agar seluruh siswa bisa kembali fokus dan menjaga kekompakan menjelang penampilan,” ujarnya lega.
Kini, para siswa kembali berupaya menata semangat demi memberikan penampilan terbaik mereka.
Sebanyak 11 kelas siswa kelas 11, mulai dari 11 A1 hingga 11 G, terlibat dalam sebuah kegiatan pembelajaran berbasis praktik yang melibatkan lebih dari 300 peserta. Masing-masing kelas terdiri dari sekitar 36 siswa yang seluruhnya berpartisipasi dalam rangkaian proses produksi.
Namun, pada hari pementasan, tidak semua siswa tampil di atas panggung. Sebagian di antaranya mendapat peran penting di balik layar.
Baca Juga:Marriage Is Scary? Film Keluarga Suami Adalah Hama Angkat Realita Rumah Tangga yang Dekat dengan KehidupanTerbantu Program JKN, Enok Bisa Jalani Perawatan Tanpa Khawatir Biaya Pengobatan
“Ada yang jadi sutradara, astrada, lighting, sound, PJ make up, kostum, koreografi, stage manager, sampai stage crew. Jadi mereka sudah punya perannya masing-masing, termasuk juga yang menjadi aktor,” ujar Annisa.
Pendekatan ini menjadi ruang belajar kolaboratif yang mempertemukan kreativitas dan tanggung jawab siswa.
